Berikut ini adalah 10 ide tak terduga yang justru bisa menghasilkan uang hingga jutaan dolar AS seperti dikutip laman CNBC.com.

1. Firehouse Sub
(Kedai makanan bernuasa pemadam kebakaran)

Chris dan Robin Sorensen merupakan petugas pemadam kebakaran di Florida, AS. Dengan pengalaman sebagai keluarga yang bergelut dalam dunia pemadam kebakaran selama 200 tahun, mereka memunculkan ide untuk membangun kedai makanan.

Lewat dana pinjaman dari saudara ipar Robin, mereka memutuskan untuk membuka kedai pertamanya yang dihias dengan berbagai pernak-pernik seputar pemadam kebakaran. Bahkan, mereka menamai sejumlah makanan yang terinspirasi dari alat-alat pemadam kebakaran seperi Hook & Ladder dan Engine Company.

Saat ini, Firehouse Subs telah menjadi bisnis waralaba yang tengah meledak. Lisensi Firehouse Subs kini sudah dipakai di lebih 514 lokasi seluruh AS. Perusahaan juga berencana untuk melebarkan bisnis dengan menyasar wilayah di AS.

Pada 2011, Firehouse Subs meraup US$284,9 juta (Rp2,56 triliun) dari total penjualan mereka.

2. Two Men and a Truck
(Bisnis pengangkutan sampah)

Marry Ellen Sheets tak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya mengangkut sampah bisa mengantarkannya menjadi pemilik perusahaan bernilai jutaan dolar AS.

Pada 1980, putra Sheets, Jon, dan Brig Sorber, mulai terlibat dalam pekerjaan mengangkut sampah di sekitar kawasannya. Namun, ketika kedua anaknya tersebut menginjak bangku kuliah, Marry Ellen memutuskan untuk mempekerjakan dua orang pegawai dan membeli sebuah truk senilai US$350.

Awalnya, kegiatan yang dilakukan Marry Ellen ini sekadar hobi belaka. Namun, seiring waktu berjalan, dia memutuskan untuk menggarap bisnisnya tersebut secara serius. Dia mulai mewaralabakan bisnis pengangkutan sampahnya.

Saat ini, Two Men and a Truck beroperasi di 224 lokasi dan tersebar di 34 negara bagian. Brig Sorbes ditunjuk sebagai chief executive officer menggantikan ibunya, Marr Ellen yang duduk sebagai anggota direksi. Sementara itu, Jon Sorber bertindak selaku eksekutif.

Pada 2011, Two Men and a Truck telah beroperasi sebanyak 353.761 kali dengan total penjualan US$220 juta (Rp1,98 triliun).

3. Life is Good
(Bisnis cenderamata dengan karakter kartun Jake)

Bert dan John Jacobs pertama kali memperkenalkan kaus t-Shirt pada 1989 dan menjualnya di sepanjang jalan pantai timur AS dan lingkungan universitas di Boston. Namun, kesuksesan tak menghampiri mereka.

Hingga lima tahun kemudian, keduanya berpikir untuk menggunakan desain kartun yang diberi nama Jake dengan motonya Life is Good. Masyarakat tampaknya terpincut dengan pesan optimisme singkat tersebut. Akibatnya, penjualan kaus T-Shirt mereka makin banyak diburu dan menarik minat perusahaan ritel.

Saat ini, wajah kartun Jake tak hanya melekat pada kaus. Bert dan John kini mulai menggunakan karakter kartun mereka pada handuk dan cangkir kopi bahkan tali pengekang anjing.

Pada 2011, tercatat bisnis Life is Good telah mendatangkan uang hingga US$100 juta (Rp900 miliar).

4. Spanx
(Pakaian)

Gagasan Spanx bermula ketika pada suatu malam, Sara Blakely memutuskan untuk memotong bagian bawah celana pantyhouse-nya. Bermodalkan uang tabungan US$5.000, Blakely mulai melakukan penelitian dan mencatatkan paten atas produknya. Dengan mengendarai kendaraannya, Blakely lalu mendatangi sebuah pabrik di North Carolina untuk mulai memproduksi Spanx tersebut.

Pada 2000, prototipe pertamanya mulai meluncur dan mendapat respons positif dari sejumlah toko department store. Dalam tiga bulan pertama, dia berhasil menjual lebih dari 50 ribu unit.

Kini, bisnis Blakely telah mendunia, bahkan produknya telah dijual di berbagai belahan dunia. Hal ini pula yang mengantarkannya masuk dalam jajaran orang terkaya dunia versi Forbes pada 2012 dengan perkiraan pendapatan perusahaan sedikit di bawah US$250 juta (Rp2,25 triliun).

5. myYearbook
(Buku tahunan online)

Dua orang bersaudara Dave dan Catherie Cook pertama kali muncul dengan idenya membangun bisnis buku tahunan lewat online ketika keduanya pindah sekolah menengah umum. Untuk memulai bisnisnya, dua orang muda ini menemui saudaranya Geoff Cook yang telah terlebih dahulu memulai berbisnis. Pada 2005, Geoff diangkat menjadi CEO myYearbook.

Selama sembian bulan pertama beroperasi, myYearbook telah memiliki pengguna sebanyak 1 juta. Seiring perkembangan perusahaan, myYearbook tak hanya menyasar pelajar SMU, namun melebarkan bisnisnya pada kalangan biasa.

Pada November 2011, situs Quepasa membeli myYearbook seharga US$100 juta (Rp900 miliar) dalam bentuk tunai dan saham. Juni ini, situs myYearbook mengubah merek mereka menjadi MeetMe.

Langkah besar lain yang ditempuh MeetMe adalah upaya merger dengan Quepasa yang membuat perusahaan memiliki jumlah pengguna sebanyak 80 juta orang dari sebelumnya 40 juta. (art)

6. Pillow Pets
(Bantal berbentuk binatang)

Ide bantal berbentuk binatang pertama kali muncul dari pengalaman Jennifer Tefler menyaksikan putranya mengumpulkan sejumlah boneka berbentuk binatang untuk dibentuk menjadi sebuah bantal.

Jennifer bersama sang suami akhirnya memutuskan untuk membuat produk bantal binatang pada 2003 lewat perusahaan bernama CJ Products. Penjualan perdananya dilakukan di kios sebuah mal di waktu musim liburan.

Pada akhir tahun, Jennifer memperkenalkan Pillow Pets di rumahnya dan seluruhnya terjual habis. Bisnis mainan untuk dipeluk ini akhirnya membesar dan bisa mendatangkan pendapatan hingga US$300 juta (Rp2,9 triliun) pada 2010.

7. Tom’s of Maine
(Pasta gigi alami)

Tom dan Kate Chappell memutuskan untuk pindah ke Maine pada 1968 guna memulai hidup yang sederhana. Sayangnya, mereka kesulitan untuk memperoleh produk-produk makanan yang natural. Dari kondisi itu, pasangan hidup ini memutuskan untuk membuat dan menjual produk-produk alami berbekal modal awal sebesar US$5.000.

Dengan uang tersebut, terlahirlah Tom’s of Maine pada 1970 dengan produk mulai dari shampo hingga perlengkapan pribadi lain yang terbuat dari bahan alami.

Gebrakan terbesar mereka tercipta lima tahun kemudian, ketika pertama kali memperkenalkan pasta gigi berbahan alami. Hingga 1999, penjualan pasta gigi ini telah mencapai US$40 juta. Pada 2006, produk pasta gigi mereka, Colgate Palmolive, menguasai 84 persen produk Tom’s of Maine dengan penjualan mencapai US$100 juta (Rp900 miliar).

8. Boston Beer Company
(Bir 30 rasa)

Darah bir seolah mengalir dari diri Jim Koch. Sang ayah merupakan generasi kelima dari pembuat bir di keluarganya. Namun, Jim sempat memutuskan hengkang dari bisnis yang membesarkan keluarganya tersebut.

Namun, panggilan untuk kembali menggeluti bisnis bir kembali datang menghampiri Jim. Pemicunya, Jim melihat banyak orang yang ingin merasakan bir yang berbeda dari biasanya. Akhirnya, dia kembali menggali sejumlah rahasia-rahasia racikan bir dari sejumlah resep yang pernah dibuat para leluhurnya.

Ketika bir racikannya dirasakan sudah sempurna, Jim meninggalkan profesi lamanya sebagai konsultan manajemen untuk menjajakan dari pintu ke pintu produk bir Samuel Adams Boston Beer Lager.

Saat ini, perusahaannya merupakan penghasil bir terbesar yang memiliki 30 cita rasa berbeda. Pada 2011, Boston Beer Company telah menghasilkan pendapatan hingga US$513 juta (Rp4,62 triliun).

9. K’Nex
(Mainan konstruksi plastik)

Semua bermula di sebuah acara perkawinan. Joel Glickman, tengah duduk di sebuah meja dan mulai memotong serta membuat sebuah bentuk berbahan sedotan. Aksi isengnya ini telah memicunya pada pemikiran untuk menciptakan sebuah bisnis mainan konstruksi dari plastik.

Setelah ditolak oleh sejumlah perusahaan mainan seperti Hasbro dan Mattel, Glickman mengambil langkah berani dengan menyuntikkan modal pada bisnis mainan tersebut.

Pada 1993, setahun setelah K’Nex muncul di pasaran, pendiri Toys R Us mengatakan mainan buatan Joel merupakan salah satu yang terbaik yang pernah dilihatnya selama bertahun-tahun. Empat tahun kemudian, penjualan K’Nex melonjak hingga mencapai US$100 juta (Rp900 miliar).

Ketika Glickman memutuskan pensiun, bisnis tersebut sempat jatuh kolaps. Namun, kembali berkembang setelah dia memutuskan akan menangani bisnisnya itu.

10. 1-800-FLOWERS.COM
(Jasa pembelian bunga)

Pada 1976, Jim McCann adalah seorang bartender dan pekerja sosial yang tengah mencari tambahan pemasukan ketika membeli sebuah toko bunga senilai US$10 ribu (Rp90 juta). Langkahnya itu mengantarkannya menjadi bos dari 13 toko serupa di kawasan metropolitan, New York.

Bisnisnya makin berkembang setelah McCann memutuskan membeli layanan telepon 1-800-FLOWERS pada 1986. Perusahaan ini merupakan yang pertama kali menggunakan nama toko dalam layanan telepon bernomor 800, dan merupakan ide sederhana yang brilian.

Agar tak ketinggalan dengan perkembangan teknologi, McCann juga mulai menggunakan layanan internet dalam menjalankan bisnisnya pada 1991. Pada 1999, 1-800-FLOWER memutuskan go public dan menambahkan kata .COM di belakang nama perusahaan.

Saat ini, McCann sudah memiliki perusahaan yang mampu mengakuisisi perusahaan seperti The Popsorn Factory dan Fannie May. Diperkirakan pendapatan perusahaan pada 2011 mencapai US$689,8 juta (Rp6,2 triliun). (art)

sumber vivanews