Perusahaan keluarga menguasai 80%-98% bisnis di dunia. Sekitar 200 dari masing-masing perusahaan tersebut mampu mencetak keuntungan kotor sebesar 2 miliar dolar Amerika setiap bulannya. Perusahaan-perusahaan ini mempekerjakan hampir separuh angkatan kerja di dunia, dan menyumbang lebih dari separuh GDP (Produk Domestik Bruto/PDB) dunia.
Di Amerika Serikat, 24 juta bisnis keluarga menyerap 62 persen angkatan kerja yang ada dan menyumbang 64 persen dari PDB negara. Bahkan, 37 persen dari perusahaan besar yang tergabung dalam Fortune 500 adalah perusahaan keluarga. Di India dan negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Kuwait, dan hampir seluruh negara teluk yang melakukan kegiatan komersial di Gulf Cooperation Council, 98 persennya adalah usaha yang dijalankan oleh keluarga.
Fenomena serupa juga berlaku di Indonesia. Sebanyak 96 persen dari 165.000 perusahaan yang ada di Indonesia merupakan perusahaan keluarga (Pikiran Rakyat, 16 November 2006). Biro Pusat Statistik mencatat, perusahaan keluarga di Indonesia merupakan perusahaan swasta yang punya kontribusi besar terhadap PDB, yaitu mencapai 82,44 persen. Terbukti bahwa perusahaan keluarga memiliki posisi dan peran vital dalam perekonomian negara.
Kebebasan berekspresi dan bereksperimen menjadi keunggulan perusahaan keluarga dalam melahirkan ide-ide bisnis yang segar, inovatif, dan orisinal. Dibanding dengan kebanyakan perusahaan publik yang sering kali bertumpu pada pertimbangan-pertimbangan pendek berdasarkan fluktuasi saham, maka perusahaan keluarga umumnya cenderung memiliki sudut pandang jangka panjang terhadap bisnisnya. Manajemen kekeluargaan juga menjadi ciri tersendiri yang bisa membawa atmosfer positif terhadap performa karyawan, hubungan dengan pelanggan, atau stakeholders penting lainnya.
Namun, unsur personal karena hubungan kekerabatan ini di sisi lain berpotensi memicu terjadinya konflik internal. Penelitian yang dilakukan oleh Family Firm Institute untuk jurnal Family Business Review (2008), mengungkap bahwa hanya 30% dari perusahaan keluarga yang bisa bertahan hingga generasi kedua, hanya 12% yang mampu bertahan pada generasi ketiga, dan cuma 3% saja yang mampu berkembang sampai generasi keempat, dan seterusnya. Sehingga, muncul idiom: ‘Generasi pertama yang mendirikan, generasi kedua yang membangun, dan generasi ketiga yang merusak’.
Keunikan bisnis keluarga ini pula yang menggelitik femina, yang menyaksikan banyak bisnis sukses yang dijalankan oleh wanita. Kebanyakan dari mereka ini punya kecenderungan untuk mewariskan usahanya kepada anak mereka. Melalui acara Power Lunch bertajuk Tantangan Bisnis Keluarga di Era Modern, femina ingin memberikan business insight kepada komunitas wirausaha femina tentang bagaimana mengelola dan membesarkan bisnis keluarga.
Power Lunch tahun ini diselenggarakan dalam bentuk diskusi panel, menghadirkan empat pengusaha dua generasi yang menjadi leader di bidangnya. Mereka adalah Peter F. Gontha dan Dewi Gontha (PT Java Festival Production) dan Dr. Mooryati Soedibyo dan Putri Kuswisnuwardhani (PT Mustika Ratu Tbk.). Diskusi panel ini akan diperkaya oleh ulasan pakar bisnis Rhenald Kasali yang akan memberikan peta kekuatan bisnis keluarga dan masukan profesional membesarkan bisnis keluarga di era bisnis modern.
Power Lunch adalah acara puncak dari rangkaian Wanita Wirausaha Mandiri-Femina 2011/2012 yang bertajuk Inspirasi Wirausaha “Dunia Usaha Tanpa Batas”. Melalui ajang ini, sepanjang tahun 2011-awal 2012, femina didukung Bank Mandiri membuat serangkaian kegiatan edukasi dunia usaha. Program mencakup seminar di 7 kota, Lomba Wanita Wirausaha Nasional, Festival/Bazar Wanita Wirausaha, buku mini wirausaha (serial), Femina Award untuk Inacraft 2012, dan kolaborator untuk Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women.