Syeikh Abdul Qadir al-Jilani pernah berpesan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, maka setidaknya harus memiliki tiga kualitas. Yaitu, Ilmul ‘Ulama’, Hikmatul Hukama’, dan Siyasatul Mulk. Apabila dalam diri seorang pemimpin terdapat tiga kualitas tersebut, maka akan memudahan ia dalam memimpin rakyatnya. Dengan demikian, bukan tidak mungkin rakyat aan hidup bahagia dan sejahtera.

Untuk yang pertama adalah Ilmul ‘Ulama’. Seorang pemimpin bukanlah orang sembarangan atau biasa-biasa, akan tetapi ia harus memiliki kualitas dan integritas tinggi. Tanpa ilmu dan pengetahuan yang luas, maka kiranya sangat sulit bagi pemimpin untuk memimpin rakyatnya. Oleh sebab itu, pemimpin haruslah orang yang berilmu tinggi layaknya seorang ulama’, sehingga memiliki pengaruh yang besar bagi orang-orang yang dipimpin. Selain itu, dengan kualitas Ilmul ‘Ulama’, maka pemimpin akan lebih mudah untuk menghegemoni rakyatnya, sehingga mau melakukan apa yang ia inginkan.

Kita tahu bahwa salah satu sifat yang ada pada diri Rasulullah SAW adalah fathanah (cerdas). Tentunya, masih banyak sifat terpuji lain yang ada pada diri Rasulullah. Seperti jujur, amanah, asketis, disiplin, bijaksana, dan lain sebagainya. Dengan segala kemampuan dan kecerdasan yang dimiliki, Rasulullah mampu mengurusi, mengatur, dan memimpin rakyatnya dengan baik. Sehingga, beliau mampu membawa negaranya ke arah yang lebih baik dan maju.

Kemudian yang kedua adalah Hikmatul Hukama’. Kebijaksanaan itu akan sangat menentukan ketegasan dan keadilan dari pemimpin. Pemimpin yang bijak adalah ia yang mampu memecahakan masalah dalam berbagai hal secara adil dan tegas, sehingga tidak ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Ia mampu memberikan keputusan yang konkrit dan bersifat futuristik, serta memikirkan arah ke depannya agar lebih baik.

Selanjutnya yang ketiga adalah Siyasatul Mulk. Kualitas ini juga dianggap sangat penting, karena hal ini sangat berkaitan erat dengan masalah manajemen. Bisa dikatakan, tanpa manajemen, maka pemimpin akan kebingungan dalam menghadapi segala problematika yang ada. Sehingga, negara yang dipimpinnya akan menjadi berantakan dan amburadul.

Tugas pemimpin adalah mengatur dan mengurusi rakyatnya. Oleh sebab itu, ia harus mampu mengatur kekuasaannya, sehingga lebih mudah untuk mengurusi dan melayani kebutuhan yang diinginkan oleh rakyatnya. Memang, dalam memimpin, setiap orang memiliki cara atau seni sendiri. Akan tetapi, tentu seni kepemimpinan yang ia jalankan semata-mata hanya untuk mensejahterakan rakyatnya. Untuk itu, pemimpin harus memiliki seni kepemimpinan yang bisa membuanya lebih mudah dalam mengatur kekuasaan yang ada. Dan yang terpenting, kepemimpinannya bisa dijadikan suri tauladan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Namun, jika kita melihat realita yang terjadi saat ini, belum ada pemimpin yang memiliki kualitas tersebut, terlebih di Indonesia. Kiranya sangat sulit bagi kita untuk mencari pemimpin yang benar-benar kualitas dan kapabilitas mumpuni, sehingga layak dianggap sebagai pemimpin. Inilah permasalahn yang ada di negeri Indonesia tercinta ini.

Problematika

Jika berbicara tentang negara Indonesia, maka banyak sekali permasalahan yang ada pada diri para pemimpin negara tersebut. Mulai dari sikap pemimpin yang dhalim, tidak tegas, tidak bertanggung jawab, lembek, haus jabatan, bahkan munafik. Kita tahu bahwa seringkali pemimpin mengumbarkan berbagai janji kepada rakyat, akan tetapi janji itu hanya “omong kosong” belaka tanpa ada realisasi yang konkrit.

Selain itu, acapkali pemimpin kita kurang bijak dalam memutuskan suatu perkara. Sehingga, keputusan yang dihasilkan selalu mendapat kritikan dari berbagai kalangan, serta menyebabkan terjadinya kontrovesri atau polemik. Hal ini menunjukkan bahwa belum ada sikap ketegasan dari pemimpin dalam memutuskan suatu perkara.

Ketika kita berbicara tentang keadilan yang ada di Indonesia, maka bisa dikatakan rakyat belum mendapatkan keadilan secara merata. Masih banyak ketimpangan-ketimpangan yang ada pada masyarakat akibat dari perbuatan pemerintah. Sangat jelas lagi jika kita melihat kinerja lembaga hukum yang tidak bisa berlaku adil dan bijak. Lembaga hukum yang seharusnya mampu memberikan solusi terbaik bagi setiap masalah, akan tetapi faktanya tidak demikian.

Adapun wujud konkrit dari ketidakadilan hukum adalah semakin massifnya pejabat pemerintah yang korupsi. Semakin banyaknya korupsi merupakan akibat dari lembaga lembaga hukum yang tidak bisa berbuat adil, bijak, dan juga tegas. Sehingga hukuman yang diberikan kepada pelanggar hukum biasa-biasa saja dan tidak memberikan efek jera sama sekali. Akibatnya, jumlah orang yang melanggar hukum kian hari kian bertambah. Begitu juga dengan korupsi yang semakin menjadi-jadi.

Itulah berbagai permasalahan yang ada di Indonesia. Dan tentu masih ada lagi permasalahan lain yang belum terselesaikan hingga sekarang. Lantas, siapakah yang harus bertanggung jawab atas semua itu? Tentu jawabannya adalah pemimpin. Sebab, baik buruknya suatu negara terletak pada seorang pemimpi. Apabila pemimpin negara itu baik, maka negaranya pun juga akan baik. Demikian pula sebaliknya.

Berharap Pemimpin Ideal

Melihat realita yang terjadi di Indonesia, tentu sangatlah memprihatinkan. Pertanyaannya adalah, mampukah bangsa Indonesia bangkit dari segala permasalahan itu sehingga bisa menjadi lebih baik? Jawabannya terletak dari pada pemimpin negara Indonesia sendiri.

Dalam konteks ini, tentu rakyat sangat berharap agar bangsa Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang ideal. Dalam berbagai teori ilmu politik mengatakan, pemimpin ideal adalah pemimpin yang benar-benar memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, bertanggung jawab, berani mengambil resiko, tegas, adil, jujur, dan bijaksana. Segala tindakan yang ia lakukan tidak lain hanyalah untuk kebahagian dan kesejahteraan rakyatnya. Ia rela berjuang dan berkorban secara mati-matian demi rakyatnya. Jika negara kita dipimpin oleh pemimpin yang demikian, maka rakyat akan bebas dari penderitaan dan kesengsaraan.

Memang, dalam konteks sekarang, rasanya mustahil bagi kita untuk mendapatkan pemimpin ideal. Bisa dikatakan, pempimpin yang ideal di sepanjang dunia hanyalah Nabi Muhammad SAW. Sehingga Michael Hart, dalam bukunya “Seratus Tokoh yang paling Berpengaru di Dunia”, menempatkan Nabi pada posisi yang pertama. Ini menunjukkan bahwa Nabi merupakan pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa.

Namun demikian, bukan berarti di dunia ini, khususnya Indonesia, tidak ada orang baik yang layak dijadikan sebagai pemimpin. Setidaknya masih ada orang yang mau meneladani sikap kepemimpinan Nabi Muhammad. Kita semua berharap, agar nantinya bangsa Indonesia dipimpin oleh orang yang memiliki kualitas sebagaimana yang digagas oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Semoga! Wallahu a’lam bi al-shawab. 

Mukhlisin
* Peserta Program Pendidikan Karakter Kepemimpinan di Monash Institute