Kewirausahaan menjadi kata yang sedang nge-trend belakangan ini. Banyak orang berbicara tentang topik yang satu ini. Tak hanya sebatas diskusi nonformal, mata kuliah kewirausahaan pun menyeruak masuk ke kampus-kampus, diajarkan kepada para mahasiswa. Untuk apa? Apalagi kau bukan untuk mempercepat terserapnya ilmu yang satu ini ke dalam diri sang mahasiswa sebagai bekal hidup yang berguna.

Begitu pentingkah kewirausahaan tersebut? Ya, tentu saja. Karena, dengan bekal ilmu kewirausahaan diharapkan generasi muda Indonesia lebih siap dan berani membuka lapangan kerja. Tak lagi semata-mata menjadi pencari kerja, bahkan mampu menciptakan lapangan kerja sehingga bisa memberikan kesempatan kerja kepada orang lain. Tujuan akhir dari kewirausahaan adalah untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Ciputra, Komisaris Utama Ciputra Property, dalam acara Kompas100 CEO Forum di Jakarta, 28/11, mengusulkan agar pemerintah mengalokasikan anggaran secara khusus untuk pengembangan wirausaha. Selama ini, kata Ciputra, tingkat kewirausahaan masih cukup rendah, padahal ini menjadi tulang punggung penting bagi perekonomian nasional.

“Dari APBN sekitar Rp.1.600 triliun, kami minta 1 persen saja untuk entrepreneurship. Pemerintah tak perlu khawatir karena dengan 1 persen itu nanti akan kembali lebih dari 100 persen,” ujarnya (Kompas, 29/11). Menurut Ciputra, anggaran tersebut nantinya akan difokuskan untuk pengembangan kewirausahaan, khususnya pendidikan dan pelatihan bagi para wirausahawan di Indonesia. Misalnya, dengan mendirikan lembaga pendidikan khusus dunia usaha.

Dikatakan, bangsa Indonesia sudah 350 tahun dijajah Belanda. Kini, bangsa Indonesia telah merdeka dan sudah saatnya mengubah mindset masyarakat untuk memiliki mental mandiri dan berjiwa wirausaha. Ditambahkan, semakin bertambah wirausaha, maka daya saing ekonomi makin meningkat.

Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, mengatakan, jumlah wirausaha baru hingga tahun 2025 ditargetkan akan bertambah 5 juta orang. “Sampai dengan 2015, direkomendasikan jumlah wirausahawan baru mencapai 500.000 orang per tahun atau 5 juta orang hingga tahun 2025,” paparnya.

Sementara itu, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mencatat, jumlah penduduk yang berwirausaha saat ini baru mencapai 0,18 persen dari 238 juta penduduk Indonesia. Idealnya, agar Indonesia bisa berdaya saing tinggi, dibutuhkan paling sedikit 2 persen dari 238 juta penduduk Indonesia atau sekitar 4,76 juta wirausahawan baru dengan beragam profesi dan keahlian. Jika dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand, tingkat kewirausahaan Indonesia dikatakan masih jauh tertinggal.

Menumbuhkembangkan kewirausahaan Indonesia harus terus diupayakan. Karena, dari situ kita boleh berharap rakyat negeri ini akan memiliki daya saing yang tinggi yang pada gilirannya akan mampu mengantarkannya ke tingkat kesejahteraan hidup yang lebih baik.