Mengubah karakter seseorang mungkin menjadi hal tersulit bagi seorang guru ataupun orang tua, namun hal itu tidak di bulan Ramadhan. Bagaimana bisa? Berikut ini akan dipaparkan.

Ternyata Puasa yang dijalankan oleh umat Islam memiliki makna-makna luar biasa sebagai media pendidikan karakter manusia untuk mampu mengubah profilenya menjadi makhluk-makhluk berkualitas, baik pribadi maupun sosial.

Di dalam badan kita terdapat suatu benda yang mengontrol seluruh akivitas, baik tingkah laku, pikiran maupun tindakan, benda itu bernama qalb atau berarti “jantung” dan ada juga yang mengartikannya dengan “hati”. Nah, benda inilah yang menjadi objek pembangunan karakter manusia melalui ibadah puasa.

Puasa mengajarkan manusia sebuah hal yang sangat dahsyat. yaitu kejujuran pada diri sendiri. Sesuatu yang sejatinya halal, menyenangkan lagi dibutuhkan akan berubah menjadi haram, dijauhi dan campakkan hanya karena satu hal: Hari masih siang!

Kita bertanya, bukankah manusia dapat menikmati itu semua di kesendiriannya? Sangat mungkin, karena puasa itu ibadah yang tidak nampak. Kita tinggal mencari ruangan kosong lalu mengunci pintu rapat-rapat dan minum. Bukankah seseorang dapat mengku dirinya berpuasa namun kenyataan tidak? Namun tidak halnya bagi seseorang yang berpuasa dengan sebenar-benarnya. Dia akan berkata bahwa bersembunyi lalu makan/minum di siang Ramadhan adalah penipuan bagi hati nuraninya baik diketahui orang maupun tidak, karena tuhan melarang itu. Disinilah seorang manusia diajarkan kejujuran kepada dirinya, ketaatan kepada tuhannya.

Tentu betapa luar biasanya apabila hal ini dihayati selama 29 hari secara kontinyu. Akan sangat berdampak pada karakter pribadi seorang manusia yang telah terbiasa jujur pada hatinya. Kejujuran kepada hati inilah yang akan menciptakan pribadi yang jujur, dan pribadi yang jujur akan membentuk kejujuran sosial. Manusia-manusia yang memiliki kejujuran pribadi tidak akan terkena penyakit-penyakit hati yang menghalalkan keharaman dimanapun dia berada.

Itulah sebabnya mengapa para pakar ilmu sosial menjadikan individu yang ada di dalam potret sebuah masyarakat salah satu dari komponen yang membentuk kemajuan masyarakat tersebut. Sebab mustahil mengubah taraf hidup masyarakat tanpa mementingkan komponen yang ada di dalamnya.

Pribadi yang memiliki kejujuran apabila sedang bekerja akan teliti, apabila sedang belajar ia akan bersungguh-sungguh, apabila menyusun anggaran ia akan terbuka, apabila sedang berbicara ia tidak akan  berbohong dst. Sebab hatinya berkata bahwa kelalaian, kemalasan, korupsi anggaran, dusta dan lain sebagainya. Semua itu adalah modus penipuan hati nurani. Inilah yang membentuk karakter manusia. Wallahu A’lam.

 

* Miftahuddin Ahimy, MA

Mahasiswa Program S3 al-Quran Karim and Islamic  Science University, Khartoum, Sudan dan Ketua Tanfidziyah PCINU Sudan

Sumber NU Online