Banyak orang menunda investasi, karena merasa belum memiliki uang yang cukup. Seiring dengan semakin banyak kebutuhan dan keinginan, semakin tertunda pula investasi dilakukan. Padahal, investasi penting untuk mempertahankan bahkan meningkatkan gaya hidup di hari mendatang.  Investasi merupakan kewajiban bagi mereka yang tidak ingin daya belinya menjadi berkurang di kemudian hari.  
Apabila Anda merasa penghasilannya pas-pasan untuk menutupi biaya hidup saat ini, coba lihatlah kembali pengeluaran yang terjadi sepanjang tahun kemarin. Lakukanlah efisiensi agar sebesar 10 persen dari penghasilan bisa dialokasikan untuk dana investasi.
 
Efisiensi dilakukan dengan merevisi rencana pengeluaran yang bersifat kenyamanan. Misalnya, mengurangi jalan-jalan akhir pekan di pusat perbelanjaan dengan tetap berada di rumah bersama keluarga. Kegiatan bersama keluarga di rumah pasti akan lebih menghemat biaya tanpa mengurangi kebersamaan. Penggunaan mobil bisa dikurangi menjadi seminggu dua kali saja, sehingga biaya bahan bakar turun.
 
Biaya listrik pun bisa dihemat dengan penggunaan AC seperlunya, atau menghentikan penggunaan dispenser pemanas air. Cara lain adalah dengan mengurangi biaya makan sehari-hari dengan mengganti menu yang  lebih sederhana, tanpa mengurangi kandungan gizi makanan.   
 
Setelah merencanakan penghematan, pola pikir harus diubah, dengan  menganggap bahwa penghasilan hanya sebesar 90 persen dari total dana yang diterima setiap bulannya. Target pengeluaran adalah sebesar maksimal 90 persen, dan  sisa 10 persen merupakan nilai yang harus dibayar untuk membiayai kenikmatan di masa depan. 
 
Setelah siap melakukan penghematan dan menyisihkan dana investasi sebesar 10% dari penghasilan, investasi harus dilakukan sesegera mungkin. Bila dananya masih sedikit, bisa digunakan dengan membeli reksa dana yang hanya membutuhkan investasi minimal Rp100 ribu. Lakukan investasi secara berkala dengan memilih reksa dana yang dikelola manajer investasi yang tercatat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Reksa dana bisa dibeli di sejumlah bank.
 
Selain berinvestasi di produk keuangan, seseorang bisa melakukan investasi langsung. Misalnya bila seseorang memiliki aset yang bisa diberdayakan, misalnya rumah yang ada di lokasi keramaian, dapat dipergunakan untuk membuka usaha, kios, toko kelontong atau butik, sesuai kebutuhan di daerah tempat tinggal.
 
Keuntungan investasi bisa dialokasikan kembali ke produk reksa dana, atau instrument investasi lainnya seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI) atau membeli emas. Dengan demikian investor ini telah melakukan diversifikasi investasi ke pasar modal, sektor riil, dan komoditas (emas). Diversifikasi investasi penting dilakukan untuk meminimalkan risiko.
 
Filosofi investasi jangan menyimpan telur di dalam satu keranjang harus selalu menjadi pegangan investor.  Dana investasi yang dialokasikan investor perlu dievaluasi secara berkala, misalnya setiap tiga bulan sekali. Selain itu, investor juga harus menetapkan batasan alokasi untuk tiap jenis produk investasi, sesuai dengan profil risiko masing-masing.
 
Panduan mengetahui profil risiko bisa diperoleh di tempat investor membeli produk investasi atau dengan mengunduh di berbagai situs investasi keuangan yang saat ini banyak ditemukan di dunia maya.
 
Ketika komposisi portofolio investasi dalam perkembangan sudah berubah karena nilai satu jenis produk menjadi lebih tinggi, maka investor harus melakukan penyesuaian alokasi investasi (rebalancing) agar kembali sesuai dengan profil risiko. Cara ini berguna untuk menekan risiko investasi. Dan selalu ingat pula berinvestasilah untuk jangka panjang, jangan terlalu melihat siklus pergerakan harga produk investasi yang dibeli.
(//)SUMBER OKEZONE