mienblog

Blog Staff Universitas Brawijaya

Browsing Posts published by mienyantono

Diriwayatkan Al-Baihaqi dari Al-Wakidi bahwa Rasulullah SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun, tepatnya di bulan Rajab, bulan ketujuh dalam kalender Islam Hijriyah. Sesampai di Uhud, beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 24 :

سَلامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Diriwayatkan pula bahwa para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Lanjutan Riwayat: Abu Bakar juga melakukan hal itu pada setiap tahunnya, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa.

Saad bin Abi Waqqash pernah mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?” Demikianlah dalam kitab Syarah al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur.

Dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah atau ziarah tahunan pada setiap bulan Rajab ke maka Sayidina Hamzah yang ditradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i (riwayat lain menjelaskan peringatan itu dilakukan karena ia pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut).

Bagi umat Islam di Indonesia, tersebut di atas selain menjadi dasar hukum Ziarah Rajabiyah, juga menjadi salah satu sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan tadisi yang berkembang di tengah-tengah kita yakni peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.

Para ulama memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika Ziarah Rajabiyah atau peringatan haul. Dalam al-Fatawa al-Kubra Ibnu Hajar mewanti-wanti, jangan sampai menyebut-nyebut kebaikan orang yang sudah wafat disertai dengan tangisan. Ibnu Abd Salam menambahkan, di antara cara berbela sungkawa yang diharamkan adalah memukul-mukul dada atau wajah, karena itu berarti berontak terhadap qadha yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Saat mengadakan Ziarah Rajabiyah atau peringatan haul dianjurkan untuk membacakan manaqib (biografi yang baik) dari orang yang wafat, untuk diteladani kebaikannya dan untuk berbaik sangka kepadanya. Ibnu Abd Salam mengatakan, pembacaan manaqib tersebut adalah bagian dari perbuatan taat kepada Allah SWT karena bisa menimbulkan kebaikan. Karena itu banyak para sahabat dan ulama yang melakukannya di sepanjang masa tanpa mengingkarinya.

Para ulama di Indonesia menganjurkan, sedikitnya ada tiga kebaikan yang bisa dilakukan pada acara peringatan haul: 1. Mengadakan ziarah kubur dan tahlil 2, Menyediakan makanan atau hidangan dengan niat sedekah dari almarhum. 3. Membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memberikan nasihat agama, antara lain dengan menceritakan kisah hidup dan kebaikan almarhum agar bisa diteladani.

 

Dalam membangun bangsa yang maju besar dan beradab, agama memiliki peran yang sangat besar. Sejak dulu  berperan sangat besar dalam mengayomi dan membangun masyarakat, baik melalui pendidikan, dakwah dan lain sebagainya. tugas ulama selain liyatafaqqahu fiddin, mengggali, merumuskan dan mengembangkan pemikiran keagamaan, tetapi juga memiliki tugas yang tidak kalah pentingnya dan bahkan sangat strategis yang berkaitan dengan masalah sosial dan kebangsaaan yaitu tugas liyundziru qaumahum (membangun masyarakat) yakni membentuk kepribadian.

Dalam kaitan dengan masalah masyarakat, Ulama memiliki beberapa tugas pertama adalah pembangunan mental-spiritual, pembentukan kepribadian atau karakter masyarakat (character building) ini sangat penting agar lahir kader orang-orang  atau masyarakat yang memiliki sikap, memiliki ketegasan, memiliki prinsip serta memiliki tanggung jawab baik terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia dan terhadap bangsa dan Negara. Karena itu para ulama dan khususnya  memiliki tugas kedua yaitu nation building (pembangunan bangsa). Dengan adanya pembantukan karakter (character building) itulah nation building (pembangunan bangsa) bisa dilaksanakan dan ini merupakan modal dasar bagi state building (membangun Negara). Dengan nation building ini maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani, karena memiliki kepribadian nasional yang kokoh, sehingga bisa berdiri tegak sejajar dengan bangsa-bangsa beradab yang lain.

Tugas ketiga adalah criticism buiding (membangun sikap kritis), ini sesuai dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana sering ditegaskan bahwa sikap Ulama terhadap negara taat mutlak bahwa negara harus dijaga dan dibela, tetapi terhadap pemerintah yang ada  menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Sementara dalam melakukan amar ma’ruf sendiri perlu menggunakan etika.

مَنْ كَانَ أَمْرُهُ مَعْرُوْفاً فَلْيَكُنْ بِمَعْرُوْفٍ

(Barangsiapa mengajak kebaikan maka dengan cara yang baik pula).

Ulama  akan mendukung setiap kebijakan pemerintah yang adil dan benar, tetapi Ulama akan mengkritik setiap kebijakan pemerintah yang tidak benar dan tidak adil bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

Sikap kritis Ulama dalam mendukung atau mengkritik pemerintah ini didasari oleh pertimbangan etis, bukan oleh pertimbangan politis, karena itu akan dilakukan terus walaupun  bukan partai politik tetapi organisasi keagamaan yang memang memiliki tugas moral atau etis.

Kembali pada upaya character building dan nation building, ini merupakan langkah yang sangat mendesak saat ini, karena ini merupakan persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini ketika sekolah dan lembaga pendidikan lain termasuk lembaga kebudayaan yang ada tidak melakukan tugas ini. Sementara gelombang globalisasi yang begitu besar menghancurkan sendi-sendi bangsa ini di semua sektor kehidupan, sehingga terjadi kemerosotan moral dan lunturnya karakter. Sementara  organisasi keagamaan justru tidak pernah berhenti melakukan character and nation building ini.

Penanaman rasa cinta tanah air dan bangga terhadap sejarah serta peradaban sendiri itu dilakukan karena berdasarkan pertimbangan bahwa:

مَنْ لَيْسَ لَهُ اْلأَرْضُ لَيْسَ لَهُ تَارِيخ، وَمَنْ لَيْسَ لَهُ التَّارِيْخُ لَيْسَ لَهُ ذَاكْرَة

(barang siapa tidak memiliki tanah air dan tidak mencintai tanah air, maka tidak memiliki sejarah, barang siapa tidak memiliki sejarah maka tidak memiliki memori dan karakter).

Bagi orang atau bangsa yang tidak memiliki memori maka dia akan menjadi bangsa tidak memiliki karakter, dan bangsa yang tidak memiliki karakter akan kehilangan segalanya. Politiknya akan hilang, peradabannya akan merosot dan aset ekonominya pun akan dijarah bangasa lain akhirnya akan menjadi bangsa yang miskin dan tidak terhormat. Inilah pentingnya menanamkan rasa cinta tanah air, dan karena itu tidak henti-hentinya ulama kita menanamkan rasa cinta tanah air. Penegasan pada Pancasila, UUD 1945 dan NKRI ini merupakan bentuk paling nyata dari rasa cinta tanah air tersebut. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Dalam pengertian itulah agama ditempatkan sebagai unsur mutlak dalam nation dan character building.

 

Pendapatan Pejabat di Luar Gaji Pokok
16/02/2009

Telah diketahui bahwa gaji pokok para bupati, gubernur, anggota dewan perwakilan rakyat dan para pejabat lainnya jelas-jelas tidak dapat menutup biaya yang dikeluarkan selama masa kampanye. Namun nyatanya masih saja banyak yang berminat. Hal ini lantaran para calon pejabat yakin penghasilan di luar gaji pokok atau biasa disebut dengan ceperan itu jumlahnya lebih banyak, seperti dari persenan (fee) para kontraktor yang menang tender, serta uang lembur, tunjangan-tunjangan dan lain-lain yang yang melebihi dari gaji pokok dan jumlahnya berlipat-lipat.

Bagaimanakah konsep fiqh tentang pendapatan di luar gaji pokok di atas. Halalkah pendapatan di luar gaji pokok itu?

Dalam beberapa kitab mu’tabarah yang menjadi rujukan pesantren seperti Bughyatul Mustarsyidin, Roudlotut Tholibin, I’anatut Tholibin, Ahkamus Shulthoniyah, Ihya` Ulumiddin, Ta’liqatut Tanbih fi Fiqhis Syafi’i dan Al-Bajuri tidak ada penjelasan secara khusus mengenai gaji pokok dan gaji ceperan untuk para pejabat.

Dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin secara sederhana dijelaskan bahwa gaji para hakim, juga para wakil rakyat yang bekerja untuk kemaslahatan umat diambilkan dari kas negara (baitul maal), dengan kadar yang pantas dan tidak berlebihan. Selanjutnya, setelah mendapatkan gaji itu, para pejabat tidak diperkenankan mengambil imbalan dari dua orang yang sedang bertransaksi, para hakim tidak boleh memungut sesuatu pun dari pihak-pihak yang bermasalah, dan para petugas nikah atau Kantor Urusan Agama (KUA) tidak boleh menerima pemberian dari orang yang melangsungkan akad akad nikah.

Para hakim diharamkan menerima suap (riswah). Dalam Roudlotut Thalibin, mengutip Syeikh Abu Hamid, dijelaskan, jika pun kas negara tidak cukup dana (rizki) untuk menggaji para hakim, maka diperkenankan meminta rizki kepada pihak-pihak bermasalah dan disepakati sebelum permasalahan disidangkan. Penjelasan serupa juga ditemukan dalam kitab I’anatut Tholibin.

Persoalan penghasilan di luar gaji pokok dikaitkan dengan pembahasan tentang riswah atau suap. Namun dalam banyak pembahasan, riswah dibedakan dengan pengertian hadiah. Dalam kitab Ihya` Ulumiddin disebutkan, Imam Ghazali ditanya, apa mungkin riswah dan hadiah dibedakan, toh keduanya tidak mungkin diberikan tanpa ada maksud, kenapa riswah dilarang sementara hadiah tidak, apa yang membedakan keduanya?

Imam Ghazali menjawab, memberikan sesuatu kepada orang lain memang tidak mungkin tanpa maksud. Dalam penjelasan yang panjang lebar Imam Ghazali menjelaskan bahwa pemberian itu sejatinya dimaksud untuk mendekatkan diri dengan pihak yang diberi, atau si pemberi berharap akan memperoleh dampak dari pemberian itu. Jika si pemberi sekedar berharap mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan dengan pemberian itu maka hukumnya maksuh saja, dan ini adalah hadiah. Sementara jika pemberian itu dimaksud untuk mempengaruhi keputusan hakim atau kebijakan pemerintah, atau si pemberi memberikan hadiah kepada para hakim dan pejabat atas kebijakan yang menguntungkan dirinya, maka itu adalah riswah.

فَإنْ كَانَ جَاهُهُ بِوِلَايَةٍ تَوَلَّاهُ مِنْ قَضَاءٍ أوْ عَمَلٍ أوْ وِلَايَةِ صَدَقَةٍ أوْ جَبَايَةِ مَالٍ أوْ غَيْرِهِ مِنَ اْلأَعْمَالِ السُّلْطَانِيَةِ حَتَّى وِلَايَةِ الْأَوْقَافِ مَثَلاً وَكَانَ لَوْلَا تِلْكَ اْلوِلَايَةِ لَكَانَ لَايَهْدَى إلَيْهِ فَهَذِهِ رِشْوَةٌ عَرَضَتْ فِيْ مَعْرِضِ الْهَدِيَّةِ– إحياء علوم الدين؛ ج 2/ ص 152-153

Apabila hadiah itu diberikan berkaitan dengan jatuhnya keputusan pengadilan, atau pencairan dana sosial dan berbagai kebijakan pemerintah yang lain seperti terkait wakaf, dan jika tanpa maksud itu seseorang tidak akan memberikan hadiah maka yang semacam ini disebut riswah (suap), meskipun kelihatannya seperti hadiah. (Ihya’ Ulumiddin 2: 152-153)

Maka kembali kepada pertanyaan di atas, berdasarkan beberapa uraian dalam kitab-kitab mu’tabarah tersebut, bisa disimpulkan bahwa pendapatan yang diperoleh dari hasil ‘main mata’ dengan para kontraktor berupa uang persenan hukumnya adalah haram, sekalipun ada Undang-Undang yang membenarkan ini.

Sedangkan pendapatan lain yang didapat dari gaji lembur atau berbagai fasilitas tambahan yang diberikan dari negara dibolehkan sepanjang itu setimpal dengan jerih payah yang dilakukan dalam mengurus rakyat atau mewujudkan kemaslahatan umat. Definisi setimpal ditentukan oleh adat atau berdasarkan rata-rata penghasilan masyarakat setempat (qadra kifayatil laiqah min ghairi tabdzir), atau mungkin tepatnya tidak terlalu jauh melebihi upah minimum regional (UMR).–

 

URAIAN JABATAN

IDENTITAS JABATAN

 

 

 

 

Nama Jabatan

:

Kepala Sub Bagian Ketrampilan Hidup dan Pengembangan Karakter

Sub Bidang/Bag/Seksi

:

Sub Bagian Ketrampilan Hidup dan Pengembangan Karakter

Bidang/Bagian/SubDit

:

Bagian Penalaran dan Ketrampilan Hidup

Asdep/Biro/Direktorat /Inspektorat/Irjen

:

Biro Administrasi  Kemahasiswaan

Deputi/Sekretaris/Dirjen

:

Universitas Brawijaya Malang

Instansi / Departemen

:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

IDENTITAS RESPONDEN UNTUK ANALISIS JABATAN INI

Nama Pejabat                    :   Mien Yantono,S.E

Masa Kerja di Jabatan ini   :  3   tahun 7  bulan

Masa Kerja di Instansi ini   :   31  tahun 1  bulan

Nama Atasan langsung      :   Drs. Sagiya

Jabatan Atasan                  :  Kabag. Penalaran dan Ketrampilan Hidup IDENTITAS ANALIS  DAN TANGGAL PENGUMPULAN DATA

Nama Analis                      :

Tanggal Pengumpulan Data      :

 

 

KEDUDUKAN JABATAN DALAM STRUKTUR ORGANISASI

 

 


 

 

FUNGSI (TUJUAN POKOK) JABATAN

 

 

 

Mengkoordinasikan dan melaksanakan pengelolaan urusan kewirausahaan, soft skill,co op,pelatihan serta  urusan administrasi n untuk memastikan segala kebutuhan kemahasiswaan berjalan efektif, efisien dan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

 

 

RINCIAN TUGAS

 

 

 

 

TUGAS POKOK

 

  1. Mengkoordinasikan dan melaksanakan penyiapan urusan pengelolaan kewirausahaan, , dan  memastikan segala kebutuhan kegiatan kemahasiswaan berjalan efektif, efisien dan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

1.1.  Menerima arahan dari Pimpinan (Kabag Kemahasiswaan, Kabiro Administrasi Akademik dan Kemahsiswaan dan Pembantu Rektor III)

1.2.  Menugaskan staf dan mengawasinya untuk:

1)    Mendokumentasikan semua kegiatan kewirausahaan kemahasiswaan.

2)    Menyampaikan informasi kepada semua mahsiswa yang terkait dengan kegiatan kewirausahaan.

3)    Melaksanaan kegiatan workshop dan expo kewirausahaan.

4)    Menyususn laporan kegiatan ketrampilan hidup kemahasiswaan

1.3.  Mengusulkan kepada pimpinan tentang pengiriman mahasiswa untuk mengikuti kegiatan ketrampilan nhidup.

1.4.  Menugaskan staf untuk membuat konsep laporan  tentang kewirausahaan.

1.5.  Menyampaikan laporan kegiatan ketrampilan hidup kepada Kabag. Kemahasiswaan.

 

Kewenangan:

  • Mengusulkan cara/metode terbaik pembinaan kewirausahan mulai dari sistim selaksi, pembekalan ,pembimbingan dan monitoring

Indikator Prestasi:

  • Tersedianya sistem pengelolaan ketrampilan hidup, dan pendokumentasian yang efektif dan efisien.

 

 

  1. Mengkoordinasikan dan melaksanakan penyiapan kegiatan soft skills yang efektif, efisien dan sesuai dengan ketentuan.

2.1.    Menerima arahan dari Pimpinan (Kabag Kemahasiswaan, Kabiro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan, dan Pembantu Rektor III)

2.2.    Menugaskan staf dan mengawasinya untuk:

-      Mengarsipkan surat surat yang brkaitan dengan ketrampilan hidup.

-      Membuat konsep rencana kegiatansoft skills

-      Membuat arsip permanen untuk naskah-naskah kegiatan  soft skill.

2.3.    Mereviu arsip permanen.

2.4.    Menyampaikan informasi soft skill kepada unit-unit kerja di Sub Bagian Kemahasiswaan Fakultas melalui Kepala Bagian Kemahasiswaan.

 

Kewenangan:

  • Mengusulkan cara/metode terbaik pengelolaan soft skills.

 

Indikator Prestasi:

Tersedianya sistem pembinaan soft skills, yang efektif dan efisien.

 

 

  1. Melaksanakan rencana kerja dan anggaran sub bagian untuk memastikan tugas dan fungsi sub bagian dapat terlaksana dengan baik.

3.1.    Menerima arahan dari Pimpinan (Kabag Penalaran, Kabiro Adminidtrasi  Kemahasiswaan, dan Pembantu Rektor III).

3.2.    Menugaskan staf untuk menyusun rencana pelaksanaan anggaran berdasarkan DIPA .

3.3.    Mereviu rencana pelaksanaan anggaran.

3.4.    Menyampaikan rencana pelaksanaan anggaran kepada Kepala Bagian Penalaran.

3.5.    Merevisi rencana pelaksanaan anggaran berdasarkan koreksi dari Kabag Penalaran.

3.6.    Melaksanakan anggaran.

 

Kewenangan:

  • Melaksanakan anggaran, membuat rencana pelaksanaan DIPA.

 

Indikator Prestasi:

  • Ketepatan penggunaan anggaran sub-bagian sesuai dengan DIPA.

 

 

 

TUGAS TAMBAHAN

 

  1. Merevisi/meng-up date data kewirausahaan.

1.1.    Menerima arahan dari Pimpinan (Kabag TU, Kabiro Adminidtrasi  Kemahasiswaan, dan Pembantu Rektor III)

1.2.     Memasukkan data baru kegiatan kewirausahan ke dalam arsip permanen.

1.3.    Memberi catatan tentang kegiatan kewirausahaan yang sudah dilaksanaan baik ilngkungan kampus maupun diluar kampus.

 

Kewenangan:

  •  Meng-up date kegiatan kewirausahaan.

 

Indikator Prestasi:

  • Kegiatan kewirausahaan  ter-up date setiap waktu.

 

 

 

 

 

  1. Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan staf

2.1.    Menerima arahan dari Pimpinan (Kabag Kemahasiswaan, Kabiro Akademik  dan Kemahasiswaan, dan Pembantu Rektor III)

2.2.    Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan yang harus segera dilaksanakan.

2.3.    Menugaskan Kepala Bagian untuk merencanakan dan melaksanakan pelatihan.

 

Kewenangan:

  •  Mengevaluasi kemampuan staf  dan membinanya agar sesuai dengan kebutuhan jangka pendek.

 

Indikator Prestasi:

SDM dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik.

 

 

 

 

TUGAS LAIN-LAIN

 

  1. Kerjasama dengan subag dilingkungan Bagian Kemahasiswaan

 

1.1.    Menerima arahan dari Pimpinan (Kabag Kemahasiswaan, Kabiro Adminidtrasi Akdemik dan Kemahasiswaan, dan Pembantu Rektor III).

1.2.    Membantu Subbag lain sesuai kebutuhan dalam kegiatan kemahasiswan

 

Kewenangan:

  •  Melaksanaan kerja sama

 

Indikator Prestasi:

  •  Terjadinya kerjasama yang baik antar subbag

 

 

 

 

TUGAS BERKALA

 

  1.  Melakukan retensi proposal kewirausahaan.

2.4.    Menerima arahan dari Pimpinan (Kabag TU, Kabiro Adminidtrasi Akademik dan Kemahasiswaan, dan Pembantu Rektor III)

1.1. Memilah dan memilih proposal menjadi yang lolos didanai dan yang tidak didanai.

1.2. Mengusulkan penggolongan proposal menurut jenis usaha.

1.3. Menugaskan staf untuk melakukan pengelompokanproposal.

 

Kewenangan:

  • Mengusulkan pemusnahan proposal yang tidak didanai.

 

Indikator Prestasi:

  • Proposal yang disimpan adalah proposal yng layak didanai.

 

 

 

 

  1. Menyiapkan draft rencana kerja dan anggaran sub bagian untuk memastikan semua tugas dan fungsi sub bagian sudah terencanakan dengan baik.

2.1.    Menerima arahan dari Pimpinan (Kabag Kemahasiswaan, Kabiro Akademik  dan Kemahasiswaan, dan Pembantu Rektor III)

2.2.    Menugaskan staf untuk menyiapkan draft rencana kerja dan anggaran sub bagian

2.3.    Mereviu draft rencana kerja dan anggaran sub bagian

2.4.    Menyampaikan draft rencana kerja dan anggaran sub bagian kepada Kepala Bagian Kemahasiswaan

2.5.    Menelaah hasil reviu Kepala Bagian Kemahasiswaan dan memerintah staf untuk memperbaikinya.

2.6.    Menyampaikan draft rencana kerja dan anggaran sub bagian yang telah diperbaiki.

 

Kewenangan:

  • Membaca, meneliti dan mengoreksi serta memaraf verbal, surat/nota dinas dan atau laporan.

 

Indikator Prestasi:

  • Ketepatan rencana dan penggunaan anggaran sub-bagian.

 

 

  1. Menyusun Rencana Kerja Tahunan

3.1.    Menerima arahan dari Pimpinan (Kabag Penalaran, Kabiro   dan Kemahasiswaan, dan Pembantu Rektor III)

3.2.    Menugaskan staf  untuk menyusun rencana kerja tahunan.

3.3.    Mereviu draft rencana kerja sub bagian.

 

Kewenangan:

  •  Mereviu rencana kerja keuangan.

 

Indikator Prestasi:

  •  Tersedianya rencana kerja tahunan Biro Umum dan Keuangan.

 

 

  1. Membuat laporan kinerja tahunan sub bagian.

4.1.    Menerima arahan dari Pimpinan (Kabag Penalaran, Kabiro  Kemahasiswaan, dan Pembantu Rektor III)

4.2.    Membuat laporan kinerja kewirausahaan ke ditjen dikti

Kewenangan:

  • Mengumpulkan data dukung laporan

 

Indikator Prestasi:

  • Terjadinya laporan kewirausahan secara rinci

 

 

 

HUBUNGAN KERJA

 

 

 

JABATAN YANG DIHUBUNGI

UNIT KERJA

MAKSUD HUBUNGAN

JABATAN YANG LEBIH TINGGI
INTERNAL INSTANSI

  1. Kepala BagianKemahasiswaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Seluruh pimpinan unit organisasi di lingkungan niversitas Brawiajaya
 

  1. Biro Adiministrasi Akademik dan Kemahasiswaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pembantu Rektor III
 

  1. menerima tugas, petunjuk pengarahan dan mengajukan saran, pendapat, atau telaahan mengenai pelayanan teknis dan administratif serta menyampaikan laporan pelaksanaan tugas.
  2. Menyampaikan kegiatan kewirausahaan kepada unit kerja yang dituju

 

EXTERNAL INSTANSI

 

 

JABATAN YANG SETARA
INTERNAL INSTANSI

  1. Sub Bagian Kemahasiswaandilingkungan UB
 

  1. Pembantu Dekan III
 

  1. koordinasi tentang kegiatan kemahasiswaan.

 

EXTERNAL INSTANSI

 

 

JABATAN YANG LEBIH RENDAH
INTERNAL INSTANSI

 

 

EXTERNAL INSTANSI

 

 

 

 

 

 

TANGGUNG JAWAB JABATAN

PENERIMAAN PENGAWASAN

Pekerjaan Yang

Diawasi

Pengawasan Oleh

Frekuensi Pengawasan

  1. Pelaksanaan tugas kewirausahaan
  2. Pelaksanaan tugas soft skills
  3. Kabag Penalaran
  4. Biro Kemahasiswaan
  5. Mingguan
 

  1. Bulanan

PEMBERIAN PENGAWASAN

Jabatan yang Diawasi

Jumlah Pejabat

Pekerjaan yang Diawasi

Frekuensi Pengawasan

  1. Staf kewirausahaan
  2. 3
  3. Adm. Kewirausahaan
  4. harian

ADMINISTRASI

Nama Formulir/File/Catatan

Waktu untuk menemukan kesalahan

Waktu untuk memperbaiki

KEUANGAN

Jumlah Uang

Untuk Keperluan

  1. Rp.800.000.000
  2. Bantuan modal usaha mahasiswa

ALAT/MESIN/BAHAN

Nama Alat/Mesin/Bahan

Akibat Kesalahan

  1. Komputer
    1. Kehilangan arsip elektronik

RAHASIA

Jenis

Kerahasiaan

Akibat jika terjadi kebocoran

(bagi Instansi)

 


 

 

LINGKUNGAN KERJA

 

 

 

  1. Akibat jika terjadi kecelakaan
:    
  1. Gangguan kesehatan yang mungkin terjadi
:    
  1. Kegiatan Pejabat
    1. Duduk
    2. Berdiri
    3. Berjalan
 

:

:

:

 

85 %

5 %

10 %

 
  1. Tempat kerja
    1. Di dalam gedung
    2. Di luar gedung
 

:

:

 

90 %

10 %

 
  1. Kondisi Lingkungan
     

Kondisi

Kurang

Cukup

Baik

a. Suhu

 

 

b. Penerangan

c. Ventilasi

d. Ketenangan

e. Kebersihan

f. Keleluasaan

  • luas ruang
  • luas meja

       
  1. Alat keselamatan kerja
     

 


 

 

PERSYARATAN JABATAN

 

 

 

  1. Pendidikan Minimal

Jurusan

:

:

Strata 1

Diutamakan : Ekonomi pembangunan

  1. Pelatihan Minimal
: 1. Diklat Kepemimpinan Tk. IV

2. Pemahaman mendalam mengenai

Hukum, Peraturan dan Undang-

Undang

3.  Keterampilan komunikasi

 

 

  1. Pengalaman Minimal
: 8-12 tahun sebagai PNS

Pernah/sedang menjabat Eselon IV  atau dalam jabatan fungsional yang setara

Keterampilan komunikasi dan negosiasi

 

 

  1. Persyaratan Fisik
:  
  1. Persyaratan Jenis Kelamin
:  
  1. Persyaratan usia untuk duduk di jabatan ini
  • Minimal
  • Maksimal
 

:

:

 

 

 

  1. Persyaratan Kompetensi

 

 

  • Behavior

 

 

 

 

 

  • Technical
:

 

 

:

 

 

 

 

 

:

 

 

 

1. Integritas

2. Pemikiran taktis/Strategis

3. Kepemimpinan

4. Adaptif Terhadap Perubahan

 

 

1. Kontrol

2. Orientasi Lintas Fungsi

 


 

 

VERIFIKASI OLEH ATASAN PEMEGANG JABATAN

 

 

 

Apakah ada yang ingin ditambahkan atau diubah dari tiap butir informasi yang diberikan oleh bawahan anda? Bila  Ya, tulislah dibawah ini (Bila tidak ada koreksi/tambahan tulis TIDAK ADA):

 

A. IDENTITAS JABATAN

 

 

 

B. KEDUDUKAN JABATAN DALAM STRUKTUR ORGANISASI

 

 

 

C. FUNGSI (TUJUAN POKOK) JABATAN

 

 

 

D. RINCIAN TUGAS

 

 

 

E. HUBUNGAN KERJA

 

 

 

F. TANGGUNG JAWAB JABATAN

 

 

 

G. LINGKUNGAN KERJA

 

 

 

H. PERSYARATAN JABATAN

 

 

 

 

 

Tanda Tangan Atasan Yang Memverifikasi & Mengisi.

Tanda Tangan:______________________

Nama Jelas:________________________

Tanggal:

Bgai peserta pelatihan bisnisplandan kewirausahaan PMW 2012 dapat mengambil sertfikat mulai hari Kamis, 14 Juni 2012 di Bagian Kemahasiswaan gd rektorat lt3 selama jam kerja

Peluang sebenarnya ada di sekeliling kita, hanya saja ada beberapa individu yang mampu melihat situasi sebagai peluang ada yang tidak. Hal ini disebabkan faktor informasi yang dimilikinya Informasi memungkinkan seseorang mengetahui  bahwa peluang ada sat orang lain tidak menghiraukan situasi tersebut. Akses terhadap informasi dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan hubungan sosial (Shane, 2003).
a.    Pengalaman hidup

Pengalaman hidup memberikan akses yang lebih mengenai
informasi dan pengetahun mengenai penemuan peluang. Dua aspek dari pengalaman hidup yang meningkatkan kemungkinan seseorang menemukan peluang yaitu fungsi kerja dan variasi kerja.
b.    Hubungan sosial

Sebuah langkah penting dimana seseorang mendapatkan informasi dari interaksi dengan orang lain. Beberapa ahli menyarankan ketika seorang takut berwirausaha secara sendirian, maka mengawali usaha secara kelompok adalah alternative. Oleh karenanya, kualitas dan kuantitas dalam interaksi sosial akan lebih memungkinkan individu akan membuat kelompok dalam berwirausaha. Informasi yang penting ketika akan memulai usaha adalah informasi mengenai lokasi, potensi pasar, sumber modal, pekerja, dan cara pengorganisasiannya. Kombinasi antara jaringan yang luas dan kenekaragaman latar belakang akan mempermudah mendapatkan informasi tersebut.

2.    Target Pasar yang Tepat
Sasaran tingkah laku membantu bisnis online menidentifikasi website di mana mereka dapat memajang iklan banner untuk mempromosikan bisnis mereka dan menarik konsumen. Contohnya, jika target kelompok Anda adalah wanita dengan umur antara 20-30 tahun, kemudian menempatkan iklam pada website bahwa menyediakan untuk umur tersebut akan memberikan hasil yang lebih baik.                        Ini membantu bisnis untuk mengelola secara efektif sumber daya mereka dan target pemasaran mereka. Ditambah lagi, ini juga menyimpan banyak waktu, seperti lebih mudah untuk menjual kepada kelompok orang yang dimotivasi membeli produk khusus.    Pemasaran berdasarkan tingkah laku dapat sangat bermanfaat untuk pengiklan memahami tipe pembelian konsumen dalam kelompok target spesial. Menjadi fokus pada kelompok yang tepat juga memberikan pemilik bisnis sebuah kesempatan untuk mengkomunikasikan secara lebih efektif. Dengan menggunakan pemasaran berdasarkan tingkah laku, bisnis kecil Anda dapat mencapai return on marketing investment yang lebih tinggi dan keuntungan yang lebih besar pada jangka panjang
Beberapa sumber peluang usaha antara lain:

a.    Perubahan Teknologi

Perubahan teknologi merupakan sumber penting dalam kewirausahaan karena memungkinkan untuk mengalokasikan sumber daya dengan cara yang berbeda dan lebih potensial (Casson, 1995). Faksimili, surat, dan telepon sering digunakan sebelum ditemukannya e-mail. Email ternyata lebih produktif untuk mengirim informasi dibandingkan tipe yang lain. Penemuan internet ini memungkinkan orang membuat kombinasi sumber daya baru yang disebabkan perubahan teknologi.
Blau (1978) meneliti wirausahawan mandiri di AS selama dua dekade dan menemukan bahwa perubahan teknologi meningkatkan jumlah wirausahawan mandiri. Demikian juga dengan hasil penelitian Shane (1996) memperlihatkan bahwa jumlah organisasi dari tahun ke 1899 sampai dengan 1988 meningkat seiring dengan meningkatnya perubahan teknologi.

b.    Perubahan politik dan kebijakan

Perubahan politik dan kebijakan terkadang menjadi sumber peluang kewirausahaan  karena perubahan tersebut memungkinkan rekombinasi sumber daya agar lebih produktif.
Beberapa kejadian empiris mendukung argumen bahwa perubahan politik adalah peluang usaha. Delacoxroix dan Carool (1993) meneliti Koran Argentina dari tahun 1800 – 1900 dan Koran Irlandia 1800 – 1925 yang menemukan bahwa ada hubungan positif antara perubahan politis dengan meningkatnya pertumbuhan perusahaan baru. Bahkan perang pun dapat menjadi peluang usaha dengan menyediakan peralatan perang. Di Indonesia dengan perubahan dalam Pemilihan Kepala Daerah secara langsung, baik ditingkat nasional, propinsi, dan kaputen/ kota memberikan ruang berwirausaha sablon, percetakan, dll.
Kebijakan juga dapat menumbuhkan minat berwirausaha. Regulasi ini penting karena menyangkut legalitas sebuah perusahaan. Studi yang dilakukan oleh Kelly & Kelly dan Amburgey (1991) menemukan bahwa pertumbuhan airline di Amerika meningkat setelah adanya paket deregulasi airline. Demikian juga di Indonesia, jika jaman orde baru hanya didominasi dengan 2 atau 3 airline, dalam era reformasi ini lebih dari 10 airline. Sebelum terkena banjir lumpur, Sidoarjo adalah kabupaten yang menerapkan layanan satu atap. Hasilnya memang mampu mendorong iklim usaha karena kemudahan wirausaha mendapatkan ijin usaha. Pengalaman sukses ini telah diadopsi oleh kabupaten yang lain seperti halnya Kota Yogyakarta dan kabupaten Sragen.

c.    Perubahan demografi
Struktur demografi mempengaruhi pola usaha. Kita ambil contoh Yogyakarta. Yogyakarta selain dikenal sebagai kota pelajar dan budaya, juga dikenal sebagai daerah tujuan bagi pensiunan. Hal ini membawa dampak bagi jenis usaha yang dikembangkan di kota Yogyakarta.

3.  Fokus dalam bidang usaha
Peter Drucker pakar dalam kewirausahaan menyatakan bahwa dalam dalam memulai sebuah usaha atau inovasi dilakukan disarankan untuk terfokus –dimulai dari yang kecil berdasarkan sumberdaya yang kita  miliki. Vidi catering di Yogyakarta adalah salah satu contoh dimana pendirinya berlatar belakang sarjana teknologi pertanian, jurusan pengolahan makanan. Memulai usaha rantangan untuk anak kost karena tinggal di sekitar kampus, kemudian karena basic knowledge di bidang pengolahan makanan, kemudian berkembang menjadi catering, hotel, dan sekarang ini gedung pertemuan dan paket pernikahan (event organizer).

4.  Berani memulai.
Dunia kewirausahaan adalah dunia ketidakpastian sementara informasi yang dimiliki oleh yang akan memulai usaha sedikit. Oleh karenanya, ‘sedikit agak gila’  (overconfidence) dan berani mengambil resiko adalah sangat perlu dilakukan. Lakukan dulu. Jalan dulu. Jika ada kesulitan, baru dicari jelan keluarnya

 

 

 

Astaghfirullah rabbal baroya                                                                                    
Astaghfirullah minal khotoya
Robbi zidni ‘ilman nafi’a
Wawafiqni amalan sholiha

Yarasullah… Salamun alaik
Ya rafi’a syani wadaraji
Athfatayyaji ratal ‘alami
Ya uhailalju diwal karomi

Ngawiti ingsun nglaras syi’iran
Kelawan muji maring Pengeran
Kang paring rohmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syareat bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sengsoro

Akeh kang apal Qur’an Haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale

Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepaese gebyare ndunyo
Iri lan meri sugihe tonggo
Mulo atine peteng lan nisto

Ayo sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine

Kang aran sholeh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate
Ugo haqiqot manjing rasane
Al Qur’an qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake ing jero dodo

Kumantil ati lan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat Rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman

Kelawan Alloh Kang Moho Suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas-pasan
Kabeh tinakdir saking Pengeran

Kelawan konco dulur lan tonggo
Kang podho rukun ojo dursilo
Iku sunahe Rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito

Ayo nglakoni sakabehane
Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senajan asor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate

Lamun palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh swargo manggone
Utuh mayite ugo ulese

Dampak Soft Skills di dalam Pendidikan Perguruan Tinggi dalam Menunjang Pengembangan SDM di Indonesia

 

Written by Leo Alexander Tambunan, S.E., M.M
Friday, 18 February 2011 11:46
A. Dasar Pemikiran

Dunia pendidikan  terutama dunia kampus adalah lingkungan yang khas dari suatu masyarakat. Kampus adalah sebagai wahana yang mempunyai peranan penting dan strategies untuk menyiapkan generasi serta kader penerus bangsa dan Negara.

Di dalam dunia kampus sebagai dunia pendidikan tinggi, mahasiswa memperoleh pendidikan berupa pengetahuan yang khas dari suatu disiplin ilmu yang ditempuhnya., ketika seseorang menempuh pendidikan di perguruan tinggi maka kita kan menemukan bahwa mahasiswa suasana sekaligus mengemban tanggung jawab adapun tanggung jawab tersebut adalah tanggung jawab intelektual dan moral.

Tanggung jawab mahasiswa di dalam menempuh pendidikan tinggi di dalam menempuh pendidikannya membutuhkan waktu 4 thn atau 8 semester untuk menyelesaikan pendidikannya, selama mengikuti pendidikannya mahasiswa memperoleh 2 hal dalam mengembangkan tanggung jawab inteletual dan moral. Adapun skill yang diberikan adalah Hard Skills dan Soft Skils1

Yang disebut hard skills adalah keterampilan spesifik, kemampuan mendidik yang mungkin diperlukan dalam konteks tertentu, seperti pekerjaan atau aplikasi universitas. Sementara soft skills adalah istilah sosiologis yang berkaitan dengan “seseorang EQ” (Emotional Intelligence Quotient), cluster sifat kepribadian, keterampilan sosial, komunikasi, bahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang menjadi ciri hubungan dengan orang lain. Dengan kata lain hard skills lebih bersifat akademik sementara soft skills bersifat non akademik.


B. Masalah

Setelah memahami definisi ttg hard dan soft skills, ada beberapa masalah yang terjadi di dalam perguruan tinggi kita dimana soft skills kurang diperhatikan dan diberikan kepada para mahasiswa, Hal ini disebabkan oleh karena kurang pekanya pihak Universitas dalam mengembangkan minat dan bakat mahasiswa yang didiknya.tidak heran dalam berita di Kompas 19 Februari 2010 yang lalu dikatakan bahwa 2 juta diploma dan Sarjana yang menganggur (terlampir), hal ini disebabkan karena sebahagian lulusan perguruan tinggi tidak memiliki ketrampilan non akademis.2 Banyak perguruan tinggi mengutamakan lulusannya hanya mementingkan lulusan dari IPK yang tertinggi dengan harapan dapat diterima di pekerjaan yang layak, akibtanya ketrapilan soft skills tidak diutamakan padahal di dalam dunia kerja tidak hanya diutamakan kemampuan akademik tetapi diutamakan juga bagaimana lulusan perguruan tinggi di dalam mengembangkan lulusannya harus dapat berinteraksi terhadap sesama rekan kerja (team Bulding), bagaiamana memimpin suatu departemen/kerja (Leadership), bagaiaman lulusan tersebut mampu mememecahkan suatu masalah di lingkungan kerja (problem solving), dapat berkomnuikasi di dunia kerja (communication skills), dll.


C. Analisa

Berdasarkan masalah diatas, maka mahasiswa didalam pendidikan di kampus hendaklah diberikan pemahaman akan pentingnya mengasah minat dan bakat mereka ketika mereka kuliah, sehingga dengan memberikan arahan dan bimbingan dalam mengikuti setiap kegiatan non akademik di kampus dapat meningkatkan soft skills mereka yang dapat berguna di kemudian hari di dalam dunia industri

Menurut Arthur W. Chickering (1969) digunakan pendekatan dan konsep pembinaan mahasiswa yang disebut  7 vectors of Development (SvoD). Adapun 7 Vectors of Development itu dibagi atas 7 tahapan dalam mengembangkan soft skills mahasiswa,3

Tahap 1 adalah DEVELOPING COMPETENCE, yaitu : Mahasiswa membutuhkan keterampilan dan keyakinan diri di bidang intelektual, fisik, dan hubungan interpersonal.

Tahap 2 adalah MANAGING EMOTIONS, yaitu : Mahasiswa membutuhkan kesadaran terhadap berbagai macam perasaan dan rangsangan melalui observasi diri secara terpisah, sehingga mampu mengontrol emosi serta menyatukan perasaan secara selaras.

Tahap 3 adalah MOVING THROUGH AUTONOMY TOWARD INTERPENDENCE, yaitu : mahasiswa membutuhkan kemampuan memotivasi dan mengatur diri sendiri serta mengurangi jaminan perhatian (ketertarikan) dan persetujuan dari orang lain. Kemampuan mengarahkan dirinya untuk mencapai tujuan atau sasaran yang hendak dicapai secara mandiri.

Tahap 4 adalah DEVELOPING MATURE INTERPERSONAL RELATIONSHIP yaitu: mahasiswa membutuhkan kemampuan untuk membangun sikap toleransi dan penerimaan antar sesama serta mematangkan potensi dirinya nenbangun hubungan yang harmonis.

Tahap 5  ESTABLISHING IDENTITY Yaitu : Mahasiswa ingin memperoleh secara akurat dan realistis tentang gambaran dirinya serta membangun citra dan harga dirinya untuk merasa mampu, percaya diri, serta memiliki nilai.

 

Tahap 6  DEVELOPING PURPOSE, yaitu : mahasiswa membutuhkan kejelasan tujuan akhir yang hendak dicapai dari pendidikan yang diperolehnya

Tahap 7 DEVELOPING INTERGRITY yaitu : Mahasiswa membutuhkan kemampuan untuk mendefinisikan sistem nilai secara konsisten untuk membimbing aktivitas-aktivitas yang dilakukan sebagai manifestasi tanggung jawab sosial.


D. KESIMPULAN DAN PENUTUP

Dari analisa tahapan diatas dapat disimpukan bahwa tahapan tersebut sangat dibutuhkan oleh universitas dalam mengembangkan dan membentuk para mahasiswa sehingga mampu menjawab kebutuhan dunia industri atau dunia kerja yang profesional. Pihak universitas atau pengelola pendidikan hendaknya memperhatikan aspek-aspek diatas dalam membentuk karakter para mahasiswa, dan tentunya diaplikasikan dalam kehidupan sosial.

Para Pengajar (dosen), pembimbing mahasiswa, serta orang tua hendaknya berperan serta dalam mengembangkan karakter dari masing-masing mahasiswa karena pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau umiversitas dalam memenagkan persaingan saja akan tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama dalam mengembangkan SDM yang tangguh dan dapat memenagkan kompetisi persaingan yang cukup ketat di era globalisasi. TERAKHIR, DASAR SEMUA ASPEK ITU ADALAH ASPEK KEROHANIAN YANG KUAT YANG MAMPU MENJADIKAN LULUSAN UNIVERSITAS MEMILIKI KARAKTER DAN PERILAKU YANG KUAT DAN MEMILIKI JIWA KEPEMIMPINAN YANG BAIK.


Bagi yang tidak mengikuti pelatihan PMW tanpa pemberitahuan kepada panitia maka dinyatakan gugur

pemateri pelatihan terdiri : Dosen UB,alumni PMW yang sukses berwirausaha,HIPMI cabang Malang, moderator PD III dilingkungan UB