mienblog

Blog Staff Universitas Brawijaya

Sering kali kita sebagai seorang muslim yang awam belajar shalat maupun ibadah yang lain hanya seperluanya saja. Bahkan tidak jarang diantara kita eggan bertanya kepada para ustadz maupun mu’allim tentang apa yang sebenarnya ada dibenak kita. Entah karena merasa hal tersebut tidak penting ataukah memang tidak enak bila banyak bertanya. Apalagi jika pertanyaan dengan kata tanya mengapa.
Namun jika tiba waktunya, kita sering menyesalkan mengapa hal itu tidak kita tanyakan, bukankah malu bertanya sesat di jalan, begitu pepatah berkata. Biasanya kasus seperti ini muncul dalam masalah-masalah yang kelihatannya sepele, yang sudah taken for granted atau Ma wajadna aba-anaa. Dengan kata lain, perkara yang sudah dari sononya begitu. Semisal menegakkan jari telunjuk kanan ketika membaca tasyahud dalam shalat, baik tasyahud awal maupun tasyahud akhir.

Memang para muallim, kyai dan ustadz sedari dulu juga mengajari shalat demikian, turun temurun dari gurunya lagi hingga Rasulullah saw. sebagai mana dalam hadits-Nya yang popular

صلوا كما رأيتموني أصلي- رواه البخاري.

Rasulullah saw bersabda “Shalatlah kalian sebagaimana kamu melihat (tata cara) shalatku” HR. Bukhari

Namun, sejatinya hal ini mengandung hikmah tersendiri sebagaimana disinggung dalam kitab Zubad Syaikh Ibnu Ruslan:

وعند إلاالله فـــالمهللة  *  إرفع لتوحيد الذى صليت له

Dan ketika mengucapkan ‘illallah’ angkatlah telunjukmu guna mengesakan Tuhan, karena itulah tujuan shalatmu.

Memang kalimat bait di atas sangatlah sederhana, tetapi muatan dibalik kesederhanaan itu sangatlah dalam sekali. Bahwasannya shalat yang kita lakukan tidaklah semata untuk menggugurkan kewajiban belaka, tetapi untuk mengesakan-Nya. Sudahkan kita shalat seperti itu?

Begitulah hikmah yang penting dibalik pengangkatan telunjuk ketika tasyahud, sehingga dalam Hasyiah atas Syarah Sittin Lil Allamah ar-ramli diterangkan bahwa mengangkat telunjuk ketika tasyahud hukumnya sunnah.

ويسن أن يشير بها عند قوله إلا الله ولتكن منحنية متوجهة للقبلة وذلك فى تشهديه   

Maka seseungguhnya disunnahkan berisyarat dengan telunjuk (tangan kanan) ketika mengucapkan ‘Illallah’ dan hendaklah telunjuk itu membungkuk menghadap qiblat. Baik dalam tasyahud awal maupun tasyahud akhir.

Apa yang diputuskan oleh para ulama di atas tentunya tidaklah asal-asalan sebagai penguat sebuah hadits dari az-Zubair alam Musnad Imam Ahmad diterangkan:

‏حدثنا ‏ ‏يحيى بن سعيد ‏ ‏عن ‏ ‏ابن عجلان ‏ ‏قال حدثني ‏ ‏عامر بن عبد الله بن الزبير ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏قال ‏‏كان رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إذا جلس في التشهد وضع يده اليمنى على فخذه اليمنى ويده اليسرى على فخذه اليسرى وأشار بالسبابة ولم يجاوز بصره إشارته ‏

Ketika Rasulullah saw duduk dalam tasyahud, diletakkanlah tangannya yang kanan di atas paha kanan, dan tangan yang kiri di atas paha kiri, dan beliau berisyarat dengan telunjuk, juga pandangannya tidak melampaui isyaratnya. (HR. Ahmad, Muslim dan Nasa’i)

Inilah hikmah selanjutnya, secara tidak langsung Rasulullah saw memngajari ummatnya bahwa telunjuk dapat menjadi media menuju shalat yang khusyu’ dengan membatasi pandangan kita jangan sampai melampau isyarat itu. metode seperti ini mungkin dapat dikembangkan lagi bagi mereka yang memiliki semangat menuju shalat khusyu’

 

saya subag pengembangan karakter

Oleh: Nur Haris Ali*)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.” (QS. Al Mu’minuun [23]: 1-6)

Khusyu’ termasuk ibadah yang paling penting dan—beberapa orang menilai—sulit untuk dilakukan. Untuk menuju khusyu’ kita harus fokus pada tujuan, meninggalkan segala macam bentuk beban, dan kosentrasi penuh demi bertemu dengan apa yang ingin kita tuju. Namun demikian, khusyu’ ini bukan hanya sekadar ibadah saja rupanya. Ia juga memiliki beberapa manfaat lain dalam kacamata ilmu psikologi.

Terkadang orang mukmin menyangka bahwa Allah SWT memerintahkan kita khusyu’ hanya untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri.red) kepada-Nya. Entah itu dalam hal ibadah sholat, membaca kitab Al Qur’an ataupun hal-hal lain seperti membaca sholawat dan berdzikir. Namun tahukah kita bahwa sejatinya tidak demikian. Ada semacam syaitun ‘adzim (sesuatu yang agung. red) yang terkandung di dalam perintah khusyu’ tersebut.

Abdud Daim Al Kahil dalam bukunya “Metode Qur’ani Lejitkan Potensi” pernah menyebutkan bahwa ada sebuah penelitian yang menunjukkan hal baru seputar di balik perintah khusyu’ dan bagaimana manfaatnya. Dalam penelitian tersebut, istilah khusyu’ lebih sering disebut sebagai “meditasi”. Meski meditasi ini hanya sebatas dalam bentuk duduknya seseorang dengan memandang untuk memusatkan pikiran ke sebuah gunung, lilin, atau pohon tanpa bergerak dan tanpa berpikir. Hasil kesimpulan singkat dari para peneliti tersebut menyebutkan bahwa meditasi—yang dalam konteks Islam sering disebut khusyu’—memiliki manfaat yang sangat besar, antara lain meringankan rasa sakit fisik dan psikologis, serta menyelamatkan remaja dari narkoba.

Meringankan Rasa Sakit Fisik dan Psikologis

Tentu kita pernah mengalami rasa sakit. Kita juga tahu bahwa ketika seseorang mengalami rasa sakit, mereka akan langsung mengambil obat untuk menyembuhkannya. Namun apa jadinya ketika obat kimia pun gagal dalam mengobati beberapa penyakit?

Ini mungkin semacam alternatif bagi yang belum pernah mengalami atau tahu, namun sebenarnya, ini bukanlah alternatif—yang biasanya diidentikkan dengan jalan kedua setelah jalan pertama menemui titik buntuk pasca ditempuh.

Al Qur’an, lagi-lagi telah menyebutkan bahwa ia berfungsi sebagai penyembuh (syifa’). Ia punya segudang syifa untuk menjawab semua penyakit yang kadang timbul karena kecerobohan manusia itu sendiri. Syifa lebih dari sekedar obat. Syifa adalah penyembuh. Dan jika obat hanya dapat menyembuhkan satu bagian tertentu dari tubuh atau jiwa manusia yang sakit, maka syifa memiliki sifat yang menyeluruh untuk menyembuhkannya.

“Dan kami turunkan dari Al quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra`: 82)

Sebuah penelitian baru menjelaskan bahwa, meditasi dapat mengobati penyakit kronis juga (Daim, 2011). Beberapa peniliti melakukan serangkaian eksperimen atas otak orang-orang yang diminta untuk mencelupkan tangan mereka ke dalam air mendidih. Aktivitas otak akibat dari sakit yang mereka rasakan berhasil diamati. Setelah itu eksperimen kembali diulang terhadap orang-orang yang biasa melakukan meditasi secara teratur (istiqomah.red). Ternyata, otak tidak menanggapi rasa sakit. Artinya, meditasi dapat memberikan pengaruh terhadap saraf sehingga mencegah rasa sakit karena rangsangan otak.

Lagi. Kali ini sebuah penelitian mengenai kanker, dimana penderita dengan kondisi bermeditasi yang tenang  dan khusyu selalu dibacakan ayat-ayat suci Al qur’an tiap pagi dan sore. Yang terjadi kemudian adalah sel DNA-nya “meledak” dan penderita itu sembuh (Daim, 2011). Sebetulnya jika kita faham, hal tersebut sudah ada di dalam Al-Qur’an. Bahwa Allah SWT menciptakan sel-sel manusia sesuai dengan ayat-ayat Al Qur’an. Jika kita salah memberi “asupan gizi” pada tubuh kita, maka sel-sel yang ada pada tubuh kita pun akan menolak. Sementara jika sel-sel manusia terlalu banyak menolak, ia akan menciptakan penyakitnya sendiri. Begitu pula jika kita kurang memberikan ”asupan” Al Qur’an bagi sel-sel dalam tubuh kita, dengan sendirinya maka jiwa dan raga kita pun akan lemah. Dengan begitu, kita mudah mendapatkan berbagai macam penyakit, baik fisik maupun psikologis.

Menyelamatkan Remaja dari Narkoba

Ada seorang terapis bernama Dr. Cucu Maesyaroh. Ia pernah mengikuti pelatihan shalat khusyu’ dan merasakan nikmat bermeditasi dalam kekhusyu’an. Dari pelatihan itu, ia jadi tergerak untuk meneliti lebih jauh pengaruh shalat khusyu’ kepada para pecandu narkoba yang dialami remaja. Terapis itu kemudian menangani anak-anak usia 16-24 tahun yang terjerat candu narkoba. Setelah diajari shalat khusyu’, para remaja itu mengatakan “Ini lho bu yang saya cari”. Ketika diamati lebih lanjut lagi, ternyata diketahui bahwa mereka semakin menikmati kekhusyu’an shalat mereka. Apa pasal?

Remaja yang mengkonsumi narkoba, bila ditanya alasan mengapa mengkonsumsi narkoba, maka jawaban yang muncul bisa karena ingin menghindari dan mengatasi stress. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Mereka mengkomsumi narkoba yang dicari adalah sensasi otaknya. Sensasi otak ini juga ada saat seseorang merokok, berdzikir, bahwan memancing. Sensasi berupa meditasi dalam bentuk ketenangan dan kenyamanan yang luar biasa itulah yang kemudian disebut dengan rasa nikmat.

Ketika seorang pecandu narkoba mulai berlatih shalat khusyu’, maka saat itulah otak dipaksa tenang dari dalam. Semakin dilatih maka autoproduksi zat penenang endogen (seperti dopamine, serotonin, dan ekapamin) bisa pulih. Produksi zat endogen inilah yang digerakkan dan diatur Allah SWT untuk tidak berbahaya bagi tubuh, sehingga mereka berhenti dari konsumsi narkoba.

Mempraktikkan Khusyu’ dalam Kehidupan Sehari-hari

Jika kita sudah tahu manfaat dari khusyu’, maka yang kemudian jadi pertanyaan kita bersama adalah bagaimana mempraktikkannya?

Al Qur’an selain berfungsi sebagai pedoman umat muslim, ia juga merupakan sarana yang tepat untuk mempraktikkan khusyu’ kepada Allah SWT. Dalam konteks ini, hendaknya kita membenarkan pandangan yang kurang tepat bahwa khusyu’ hanya bisa dilakukan dalam hal sholat dan membaca Al Qur’an sehari semalam saja. Pandangan yang benar adalah khusyu’ adalah manhaj hidup orang mukmin yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak hanya ketika sholat, tapi juga perbuatan yang lain.

Orang mukmin sejati akan selalu khusyu’ dalam ibadahnya. Ketika sholat misalnya, maka ia akan menghayati tiap bacaannya. Ketika membaca Al Qur’an, maka ia akan menghayati pula cerita-cerita di dalamnya. Ketika bersedekah, maka ia juga akan memikirkan uang yang disedekahnya. Ketika mengunjungi orang sakit, maka ia pun akan memikirkan betapa pentingnnya sebuah kesehatan. Bahkan ketika bertransaksi bisnis pun, ia tak akan berhenti dari perasaan bahwa Allah SWT selalu mengawasi dan melihat dirinya, sehingga ia tidak menipu, melainkan selalu berlaku jujur agar di hari kiamat kelak dikumpulkan bersama orang-orang yang jujur.

Jika kita memperhatikan kehidupan para Nabi AS terdahulu, kita akan menemukan bahwa kehidupan mereka pun penuh dengan kekhusyu’an. Bahkan mereka selalu dalam keadaan khusyu’ tiap kali ada persoalan yang menimpa. Ini yang membantu mereka untuk mampu bertahan dan sabar menerima tiap kali ada cobaan. Mungkin, kita juga mengerti kenapa kemudian, para Nabi AS adalah orang yang paling sabar. Karena mereka mempraktikkan ibadah khusyu’ dalam segala hal.

Mari Berusaha Khusyu’

Oleh karena itu, sebagai seorang mukmin, mari berusaha untuk selalu khusyu’ dalam setiap ibadah kita. Ketika kita mendapati persoalan, sudah sepatutnya kita kembali bermeditasi, kita kembalikan semuanya kepada Dzat pemberi persoalan tersebut. Kita berdoa dan memohon perlindungan dari-Nya. Dialah yang memegang segala macam persoalan. Dialah juga yang menyembuhkan. Dan Dialah Yang Maha Pemberi ketenangan dan Dialah Yang Maha Pencabut segalanya. Semoga! Allaahummanfa’naa bi barkatiHhii. Wahdinal-Husnaa bi Hurmatihii. Wa Amitnaa fii ThoriqotiHhii. Wa Mu’aafaatin Minal-Fitani. Aamiiin. Al-Faatihah…

* Santri Pesantren UII, Mahasiswa Psikologi UII, dapat ditemui di www.haris-berbagi.co.cc 

 

 

Oleh Rangga Sa’adillah*

 

Bagi orang-orang yang selalu berkecimpung dalam Kementerian Agama, pasti nama KH Abdul Wahid Hasyim sudah tidak lagi asing di dengar. Dia merupakan Menteri Agama pertama saat Indonesia menganut sistem pemerintahan Serikat (Republik Indonesia Serikat), sekaligus menjabat sebagai Menteri Agama dalam tiga kabinet yakni Kabinet Hatta, Natsir, Sukiman (1949-1952). Tahun-tahun tersebut merupakan pencarian jati diri bangsa Indonesia dalam segala aspeknya termasuk bidang pendidikan agama. Pada saat itu KH Abdul Wahid Hasyim tampil sebagai konseptor ulung pendidikan agama, dan sampai kini pemikirannya masih relevan bahkan berusaha untuk dikembangkan. Disini penulis mengungkap pemikiran pendidikan karakter KH Abdul Wahid Hasyim berdasarkan dari hasil penelitian penulis.

Mengenal Wahid Hasyim

Abdul Wahid Hasyim tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah pemerintahan Hindia Belanda. Dia lebih banyak belajar secara autodidak. Abdul Wahid Hasyim berotak cerdas. Saat berusia 5 tahun, ia belajar membaca al-Qur’an pada ayahnya (Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari) di Madrasah Salafiah Tebuireng.

Mulai usia 13 tahun, ia berkelana di berbagai pondok pesantren seperti pesantren diantaranya adalah Panji, dan Liboyo. Namun saat dia mondok selalu dalam waktu yang singkat, dan berpindah-pindah. Dengan berpindah-pindah pondok hanya dalam hitungan hari itu, dia seperti hanya berkepentingan dengan keberkahan guru, dan bukan pada ilmunya.

Sepulang dari Lirboyo, KH Abdul Wahid Hasyim tidak meneruskan belajarnya di Pesantren lain, tetapi tinggal di rumah.

Tahun 1932 saat usianya 18 tahun, Wahid Hasyim dikirimkan ke Makkah. Disamping untuk menunaikan ibadah haji, juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ini ditemani oleh saudara sepupunya, Muchammad Ilyas. Di tanah suci Makkah, ia belajar selama dua tahun.

Sepulang dari Makkah, Wahid Hasyim mulai meniti karir sebagai seorang ulama, yakni menjadi staf pengajar di Tebuireng. Dia ditunjuk sebagai asisten ayahnya yang tugasnya adalah menjaga kesinambungan proses belajar mengajar, menjawab surat-surat yang berkaitan dengan fiqih yang ditujukan kepada ayahnya dan mendatangi pengajian atau ceramah. Dia juga mendirikan Madrasah Nizamiyah, sebuah prototype pesantren modern.

KH Abdul Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama tiga periode, yaitu dalam Kabinet Hatta (20 Desember 1949 – 6 Desember 1950), Kabinet Natsir (6 September 1950 – 27 April 1951), dan Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 3 April 1952), dia mengeluarkan tiga buah keputusan yang pada tahun-tahun selanjutnya mempengaruhi sistem Pendidikan di Indonesia. Dalam waktu enam bulan setelah menjabat Menteri Agama, dia mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di hampir setiap karesidenan, Sekolah Guru dan Hakim Agama Negeri (SGHAN) di Yogyakarta, Bukittinggi, Bandung dan Malang, serta mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) di Yogyakarta.

Pemikiran Pendidikan Karakter

Terdapat delapan nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam pemikiran KH Abdul Wahid Hasyim, yakni: Religius, Toleransi, Madiri, Demokratis, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Bersahabat/Komunikatif, Gemar Membaca.

Pendekatan pendidikan karakter yang dilakukan oleh KH Abdul Wahid Hasyim menggunakan pendekatan penanaman nilai, sejalan dengan yang dijelaskan oleh Muslich, pendekatan penanaman nilai berusaha memberikan penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri anak didik. Seperti apa yang dilakukan oleh KH Abdul Wahid Hasyim yang berusaha memberikan teladan kepada anak didiknya. Strategi yang digunakan oleh KH Abdul Wahid Hasyim dalam menanamkan nilai pendidikan karakter adalah menggunakan strategi keteladanan nilai.

Dalam berbagai pemikirannya tentang Pendidikan KH Abdul Wahid Hasyim menanamkan nilai-nilai sosial seperti toleransi, demokratis, bersahabat/ komunikatif sebagai acuan dalam bertingkah laku dalam berinteraksi dengan sesama. Dengan nilai-nilai sosial yang diajarkan oleh KH Abdul Wahid Hasyim dia ingin menyampaikan pesan bahwa sesungguhnya manusia adalah bersaudara satu sama lain. Nilai persaudaraan ini oleh KH Abdul Wahid Hasyim merupakan kunci bagaimana manusia harus berhubungan apakah itu kepada antar negara, atau kepada orang yang terdiri dari berbagai latar belakang bahkan pada orang yang berprofesi dibawahnya. Dia juga menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultural. Disamping itu dia memberikan teladan agar belaku baik kepada siapa saja meskipun kepada anak buahnya. Shal ini diungkapkan oleh anaknya yang bernama Aisyah Hamid Baidlowi, KH Abdul Wahid Hasyim bila menyapa sopirnya dia memanggil dengan nama Bang Usman. Selain itu dalam hubungan sosial KH Abdul Wahid Hasyim menekankan sikap toleransi. Sikap toleransi ini merupakan sikap menghormati orang yang berkeyakinan (agama) tidak sama. Seperti yang ada dalam tulisannya untuk menyambut berdirinya Universitas Sumater Utara. Dia menghargai bahwa dalam pendirian Perguruan Tinggi Islam ada tenaga pengajar dan pelajarnya yang berlainan agama. Menghadapi kondisi tersebut dia menekankan sikap toleransi, bahkan dia memberikan apresiasi. Apa yang menjadi pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim tersebut tertuang dalam tujuan Pendidikan Karakter yang berusaha membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural.

KH Abdul Wahid Hasyim juga mengajarkan karakter berkewarganegaraan. Dalam karakter berkewarganegaraan dia menekankan nilai-nilai semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Dengan nilai tersebut, bagi KH Abdul Wahid Hasyim merupakan cara untuk memajukan bangsa. Untuk menempatkan karakter cinta tanah air, dia menanamkan karakter yang paling ringan yakni cinta terhadap bahasa. Sehingga KH Abdul Wahid Hasyim berkesimpulan kemajuan bahasa adalah kemajuan bangsa. Bagaimana tidak, dia mencontohkan Hitler dan Chamberlain ketika bernegoisasi menggunakan bahasa negara mereka masing-masing meskipun keduanya sama-sama menguasai bahasa lawannya. Dengan mencintai bahasa merupakan bukti kita mencintai tanah air kita. Semangat kebangsaan dia tunjukkan tatkala mengedepankan kepentingan bangsa dari pada pendapat pribadinya dalam sidang BPUPKI. Dia menyetujui untuk mengamandemen tujuh kata yang diperdebatkan dalam sidang tersebut. Kata yang diamandemen tersebut adalah “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Apa yang menjadi pemikiran KH Abdul Wahid Hasyim ini juga terdapat dalam rumusan tujuan Pendidikan Karakter pada poin membangun sikap warganegara yang mencintai damai, kreatif, mandiri, dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam suatu harmoni.

Selain karakter sosial dan berkewarganegaraan KH Abdul Wahid Hasyim juga mengajarkan karakter pengembangan diri. Karakter tersebut adalah mandiri, dan gemar membaca. Dengan karakter mandiri bagi KH Abdul Wahid Hasyim anak didik mampu menghadapi pekerjaan yang sulit pada akhirnya tidak mudah minta bantuan terhadap orang lain. Mengenai karakter gemar membaca merupakan wujud dari karakter cinta pada ilmu pengetahuan. Penanaman karakter ini dia contohkan ketika menjadi Kepala Madrasah Nizamiyah. Dia membangun perpustakaan dan berlangganan surat kabar dari berbagai terbitan. Mengenai nilai karakter pengembangan diri tersebut relevan dengan apa yang menjadi tujuan Pendidikan Karakter membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan mempu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan ummat manusia, mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan baik.

Nilai karakter terakhir yang ditanamkan oleh KH Abdul Wahid Hasyim adalah religius. Nilai religius ini merupakan nilai yang menjadi landasannya dalam bersikap. Dalam berbagai tulisan dan pemikirannya, KH Abdul Wahid Hasyim selalu mengkaitkan dengan keagamaan (Islam). Posisinya sebagai ulama mempertegasnya nilai karakter religius tersebut. Nilai ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Sudrajat bahwa Pendidikan karakter  adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekat, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil.

 

 

 

0leh: MH Rahmat*

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Isra’ (17): 1).

Pilihan judul Isra’ Mi’raj dalam Perspektif Agama dan Sains ini bukan dimaksudkan untuk melihat peristiwa Isra’ Mi’raj dari perspektif yang saling kontradiktif antara sains versus agama sebagaimana terjadi dalam tinjauan-tinjauan sains sekuler, sebaliknya judul ini diambil untuk berusaha memberi pandangan yang integratif  tentang peristiwa Isra’ Mi’raj dari sisi sains maupun agama, karena sains dan agama di dalam Islam bukanlah dua entitas yang berdiri sendiri-sendiri. Islam memberikan tinjauan yang meliputi segala aspek kehidupan dan semua segi pemikiran. Prinsip Islam adalah tidak ada persoalan yang berada di luar tata ruang agama, termasuk prinsip di dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sains memerlukan bimbingan agama agar menghasilkan produk pengetahuan yang menyelamatkan masa depan umat manusia, demikian juga agama perlu penjelasan sains agar tidak terjatuh ke dalam mitos dan takhayul para dukun jahat.

Isra’ mi’raj adalah satu-satunya perjalanan dahsyat menakjubkan yang menjembatani perjumpaan manusia dengan Allah, yaitu perjumpaan Rasulullah Muhammad dengan Allah SWT. Selain Rasulullah hanya iblis makhluk yang pernah bertatapan wajah dan bernegosiasi dengan Allah. Nabi Musa terkejut pingsan di bukit Tursina (Sinai) sebelum sempat melihat wajah Allah. Al-Hallaj terpenggal. Syekh Siti Jenar dieksekusi. Namun setelah dalam kenikmatan tak tertandingi dapat berjumpa dengan Allah justru Rasulullah tidak berdiam di sisi Allah, tapi Rasulullah kembali lagi ke bumi untuk menjalankan tugas-tugas kekhalifahan yang nantinya menjadi ukuran kualitatif tingkat keberhasilan manusia sebagai manusia.

Secara kualitatif manusia bisa dibedakan menjadi tiga tingkat: pertama Insan (Annas), suatu kriteria paling mudah dicapai, tanpa perjuangan. Tanpa mengaitkan diri dengan komitmen apapun manusia sudah termasuk manusia dalam artian insan. Kedua ‘abdullah, kriteria bila mana manusia itu berusaha taat, patuh, dan tunduk pada Allah supaya tidak mendapat kemurkaan-Nya. Kriteria kedua ini sedikit lebih tinggi dari kriteria pertama namun belum mencapai tingkat partisipasi aktif dalam mengubah, memperbaiki, dan mengkreatifi keadaan di muka bumi. Ketiga khalifatullah, adalah kriteria manusia yang selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Dia tidak hanya fakum dalam kepatuhan yang tidak produktif. Khalifatullah adalah jenis manusia yang memperbaiki dan membangun. Membersihkan yang kotor, mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, mencerdaskan yang dibodohi, membebaskan yang teraniaya adalah contoh partisipasi aktif manusia khalifatullah.

Manusia-manusia khalifatullah inilah yang di dalam Islam diusahakan kelahirannya di tengah-tengah problem umat manusia yang membutuhkan solusi. Mengambil istilah dari surat Ali ‘Imran (3): 110 manusia-manusia tersebut adalah khaira ummah. “Kuntum khaira ummah ukhrijat linnasi ta’muruna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuna billahi.” Manusia-manusia pilihan adalah mereka yang terlibat aktif melakukan perbaikan (liberasi), mencegah terjadinya kemungkaran dengan usaha-usaha pembebasan, pembelaan pada yang lemah (liberalisasi), dan beriman kepada Allah (transendensi). Sebagian besar agama hanya concern pada aspek transendensi. Islam menjadikan ketiga-tiganya sebagai aspek yang saling bersinergi. Seorang yang beriman bukanlah seorang yang bersembunyi dalam aktivitas ritual di dalam goa, tapi iman itu harus teraktualisasi dalam gerakan liberasi dan liberalisasi.

Di samping sebagai perjalanan luar biasa yang menjembatani perjumpaan manusia Muhammad Rasulullah dengan Allah, peristiwa Isra’ Mi’raj dapat dipahami dengan menafsir-nafsirkan surat Isra’ tersebut dengan ayat-ayat kauniyyah yang berupa alam beserta sifat-sifatnya.

Subhanalladzii (Maha Suci Allah)

Cerita tentang Isra’ Mi’raj dimulai dengan kata Subhanalladzii. Kata pembuka ini memiliki arti yang mendalam. Kata subhanallah diucapkan ketika seseorang berhadapan dengan sesuatu yang luar biasa. Dengan awal kalimat tersebut tersirat bahwa Allah akan bercerita tentang sesuatu yang luar biasa pada kalimat-kalimat berikutnya.

Asraa (memperjalankan)

Perjalanan Isra’ Mi’raj terjadi karena Allah yang memperjalankan. Perjalanan tersebut adalah perjalanan tercepat yang pernah ditempuh manusia, karena kecepatannya diceritakan bahwa Rasulullah mengendarai Buraq menuju Masjidil Aqsha berlanjut ke Sidratul Muntaha. Buraq berasal dari kata barqun yang berarti kilat cahaya. Dalam perjalanan tersebut memang Rasulullah dibawa oleh malaikat Jibril yang asal kejadian malaikat itu sendiri adalah dari cahaya. Karena asal kejadiannya dari cahaya maka malaikat bergerak dengan kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km perdetik atau delapan kali keliling bumi per detik.

‘Abdihi (hambaNya)

Para ahli tafsir sepakat bahwa dengan menggunakan kata ‘abdi memberikan isyarat bahwa perjalanan itu dilakukan Rasulullah sebagai manusia seutuhnya, jiwa dan badannya. Di sinilah mulai muncul problem dalam menjelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj. Malaikat adalah makhluk cahaya, yang badannya tersusun dari photon-photon, yang sangat ringan. Karena itu tidak mengalami kendala untuk bergerak dengan kecepatan cahaya yang demikian tinngi. Akan tetapi Rasulullah adalah manusia. Badannya tersusun dari atom-atom kimiawi, yang memiliki bobot, terdiri atas gabungan dari organ-organ, dan organ-organ itu terdiri atas sel-sel yang tersusun dari partikel yang lebih kecil yaitu atom, dan ternyata atom juga tersusun dari partikel sub atomik seperti proton, elektron, neutron dan lain sebagainya. Jika materi yang mempunyai bobot (berat) bergerak dengan kecepatan cahaya dalam perhitungan fisika yang terjadi ada dua kemungkinan, pertama materi itu akan terbakar karena bergesekan dengan atmosfir dengan sangat cepat, atau kedua materi itu akan tercerai berai, terpisah-pisah menjadi partikel-partikel penyusunnya. Badan tercerai berai menjadi organ-organ, menjadi sel-sel, atom, dan partikel sub atomik.

Salah satu skenario rekontruksi untuk mengatasi probem di atas adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama. Teori ini bisa digunakan untuk menjelaskan proses perjalanan Rasulullah pada etape pertama ini. Agar  Rasulullah dapat mengikuti kecepatan Jibril, maka badan wadag Rasulullah diubah oleh Allah menjadi badan cahaya. Untuk menjelaskan proses bagimana Rasulullah kembali menjadi jasad semula kiranya tidak mencukupi untuk disampaikan pada makalah ini.

Laila (malam hari)

Perjalanan cahaya itu di lakukan pada malam hari karena cahaya membutuhkan media yang bernama kegelapan atau keadaan gelap. Pendengaran pada malam hari juga menjadi lebih tajam daripada siang hari karena suara malam hari tidak mengalami interferensi atau gangguan gelombang yang terlalu besar, sehingga terdengar jernih. Dalam kesunyian malam suara dikejauhan pun bisa terdengar jelas.

Minal masjid al-haraam ilal masjid al-Aqsa (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha)Allah memilihkan perjalanan itu dari masjid ke masjid karena masjid adalah tempat yang banyak menyimpan energi positif. Masjid adalah tempat yang menampung umat beribadah. Masjidil Haram menjadi tempat beribadah semenjak di bangun Ka’bah oleh nabi Ibrahim bersama nabi Ismail, dan Masjidil Aqsha meskipun pada waktu itu hanya berupa sisa pondasi dulunya adalah bekas masjid nabi Sulaiman (Solomon Temple). Di sekeliling antara kedua tempat itu adalah tempat yang diberkahi sebagai asal mula peradaban. Asal-usul kemajuan peradaban barat sekarang pada dasarnya adalah dari kedua tempat tersebut. Bisa diramalkan asal peradaban adalah dari timur dan akan kembali lagi ke timur. Terbukti musisi-musisi barat pada puncak prestasinya mencapai kesempurnaan karya ketika berkolaborasi dengan musisi-musisi timur. Di bidang Sains juga kemungkinan di barat nanti akan lahir suatu penemuan yang menjadikan orang barat terpaksa harus belajar ke timur.

Mi’raj (Perjalanan menembus batas-batas langit)

Langit dalam al-Qur’an adalah kata yang sering di sebut dengan bentuk tunggal samaa’, misalnya inna fii khalqis samaa’i wal ardhi atau bentuk jama’ samawaat, misalnya sab’a samawaat. Terdapat ayat yang menyebutkan tentang tujuh langit dan tujuh bumi (QS. 65: 12), atau  tujuh langit yang bertumpuk-tumpuk (QS. 67: 3), atau kata langit yang dipergunakan untuk menggambarkan lapisan-lapisan atmosfir bumi (QS. 2: 29), (QS. 30: 48). Namun yang dimaksudkan Mi’raj bukanlah sekedar perjalanan ke angkasa bumi melewati lapisan-lapisan atmosfir, sebab jika manusia berpijak dari bumi ke angkasa menembus bintang-bintang sejauh apapun sesungguhnya dia masih berada pada langit pertama, yaitu langit dunia (QS. 67: 5), padahal Allah menciptakan tujuh langit. Lalu dimanakah langit kedua sampai langit ke tujuh berada?. Jika kita memahami dengan seksama (QS. 52: 38), (QS. 72: 8), (QS. 78: 18-19) akan kita dapatkan gambaran bahwa ketujuh langit tersebut letaknya berdampingan akan tetapi tidak bisa ditembus karena perbedaan dimensi.

Tujuh langit tersebut adalah tujuh alam hidup berdampingan dengan perbedaan dimensional.

Langit pertama adalah ruang tiga dimensi, punya luas dan ketebalan, di huni oleh manusia. Bumi, planet, tata suya, matahari, bintang-bintang, galaksi dan segala susunan putaran yang kita saksikan adalah pada langit pertama atau langit dunia.

Langit kedua adalah ruang yang berdimensi empat, dihuni oleh bangsa jin dan makhluk yang berdimensi empat lainnya. Langit kedua tersusun atas langit pertama dan kedua.

Langit ketiga adalah ruang berdimensi lima yang di dalamnya dihuni oleh arwah orang-orang yang sudah meninggal. Langit ketiga tersusun atas langit pertama, kedua, dan ketiga.

Langit keempat sampai ke tujuh memiliki gambaran yang sama, tersusun dari langit-langit sebelumnya, dan dari langit-langit sebelumnya, begitu seterusnya hingga langit ke tujuh yang memiliki ruang berdimensi sembilan. Rasulullah melakukan perjalanan sampai langit ke tujuh yang mempunyai ruang berdimensi sembilan. Ruang yang lebih tinggi dimensinya mengandung di dalamnya dimensi-dimensi yang ada di bawahnya, sebagamana di dalam volume yang berdimensi tiga di dalamnya terkandung luas yang berdimensi dua. Luas berdimensi dua terdiri atas jajaran garis-garis, dan garis-garis terdiri dari jajaran titik-titik.

Karena telah berada pada dimensi yang paling tinggi, maka Rasulullah menyaksikan dengan jelas segala tata peradaban yang berada mulai langit pertama sampai langit ke tujuh. Itulah yang menyebabkan Rasulullah dapat membaca masa lalu dan masa yang akan datang, karena Rasulullah telah mencapai perjalanan di luar lingkar ruang dan waktu yang ada pada langit pertama atau langit dunia. Semua yang ada pada lingkar langit pertama sampai langit keenam sudah terangkum ketika Rasulullah sampai pada langit ke tujuh yang berdimensi sembilan. Wallahu a’lam bissawab.

 

Ilmu adalah karunia paling berharga yang diberikan Allah kepada manusia. Kemuliaan ilmu ini banyak ditegaskan oleh Al-Qur’an maupaun hadis Rasulullah SAW seperti hadis yang mewajibkan seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, atau keharusan menuntut ilmu dari sejak manusia dilahirkan hingga meninggal dunia (long life education).

Sedangkan ilmu tidak dapat dikatakan ilmu jika ia tidak dihubungkan dengan amal perbuatan manusia. Rasulullah SAW mengibaratkan hubungan ilmu dan amal ini dengan pohon dan buahnya. Jika ilmu adalah sebatang pohon maka amal adalah buahnya. Jika ilmu tidak disertai dengan amal kebajikan maka ilmu tersebut tidak banyak berguna laksana pohon yang tak berbuah.

Dalam kitab Ta`limul Muta`allim, Syekh az-Zarnuji,  menerangkan bahwa banyak sekali umat Islam di masanya yang mengalami kegagalan dalam menuntut ilmu. Kegegalan yang dimaksud bukanlah kegagalan lulus atau tidak lulus dalam ujian sekolah. Akan tetapi lebih jauh lagi merupakan kegagalan sebab tidak dapat menjadikan ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi masyarakat luas. Dengan kata lain, ilmu yang tidak dapat dipetik buahnya.

Menurut Syekh Zarnuji, kegagalan ini disebabkan oleh kekeliruan motivasi menuntut ilmu (niat), memilih disiplin ilmu, guru dan teman, kurangnya penghormatan terhadap guru dan orang yang berilmu, kemalasan dalam belajar, kurangnya ibadah dan rendahnya sikap tawakkal (berserah diri kepada Allah),  wara` (menjauhi makan barang haram), zuhud (melepaskan ketergantungan terhadap materi). Sementara seluruh hal di atas merupakan syarat-syarat dan jalan yang dibutuhkan oleh setiap pelajar dalam mencapai ilmu pengetahuan yang diridhai Allah SWT.

Dari syarat-syarat keberhasilan mendapatkan ilmu di atas, terlihat jelas bahwa sebenarnya pendidikan dalam Islam memberikan perpaduan yang indah antara ilmu dan amal. Bersendikan pada kesungguhan dalam mengasah potensi intelektual dan keikhlasan dalam beramal.

Barangsiapa yang berhasil memenuhi syarat-syarat dan benar dalam cara menuntut ilmu niscara mereka akan tercerahkan hati dan pikirannya. Mereka akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat baik bagi dirinya sendiri juga bagi masyarakt luas serta akan selalu berada di bawah petunjuk Allah SWT.

Sebaliknya mereka yang meninggalkan syarat-syarat yang diperlukan dalam menuntut ilmu dan belajar dengan jalan yang salah maka sudah dapat dipastikan mereka akan mengalami kegagalan dalam memadukan antara ilmu dan amal. Dalam dunia pendidikan Islam terdapat sebuah slogan yang sangat populer:

Man zada ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu`dan.” Artinya: Barangsiapa yang bertambah ilmunya akan tetapi tidak bertambah petunjuknya maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali semakin jauh dari Allah.

Wawancara proposal PMW akan dilaksanakan pada hari Senin, 2 Juli 2012 jam : 08.00 digedung rektorat harap peserta menyerahkan soft copy bahan presentasi proposal ke bagian Kemahasiswaan Gd. Rektorat lt 3 paling lambar Jum’at : 29 Juni 2012

TIM REVIWER pmw 2012 AKAN MENGADAKAN RAPAT UNTUK MENETUKAN MEKANISME SELEKSI DAN WAWANCARA PROPOSAL PMW DAN MENENTUKAN INSTRUMEN UNTUK WAWANCARA PROPOSAL DAN PENETUAN JADWAL SELEKSI DAN TEMPATNYA PADA HARI KAMIS, 21 JUNI 2012 JAM ; 13.00 DI RUANG SIDANG LT6 GEDUNG REKTORAT UB HASIL RAPAT AKAN DIINFORMASIKAN KE SEMUA CALON PESERTA PMW 2012

Hasil Rapat antara PR III, PD III, Staf Ahli PR III dan Panitia PMW telah ditetapkan tim reviewer sbb:

1. Drs. Wasis, MSi ( FMIPA) 2. Isti Purwaningtyas,SS,M.Pd (FIB) 3. Dr. Ir. Purwadi,MS ( F Peternakan ) 4.Ainul Hayat,SPd,MSi (FIA), 5. Dr.Ir.Nuddin Harahap,MS (FPIK) 6. Imron Rosyadi,SE,MA ( FISIP ) ,7. Sugiarto,ST,MT ( FT ) 8. dr. M.Hanafi,MPH (FK ) ,9. Dr.Iwan Permadi,SH,M.Hum.(FH), 10. Mangku Purnomo,SP,PhD.11. Dr.Djoko Soetjiptadi,MS (FE) 12. Ir.Ang Lastarianto,MS ( FTP )

 

Ayyuhal muslimunal hadirun Rahimakumullah
Alhamdulillah hari ini kita masih bersama menikmati hari Jum’at yang mulia. Hari jum’at terakhir di Bulan Rajab. Apakah yang sudah kita lakukan pada Bulan Rajab kali ini?

Sudahkan kita memanfaatkan berbagai fadhilah yang terkandung di dalam bulan Rajab ini? Andaikan belum bersegeralah, masih tersisa lima hari sebelum kita memasuki bulan Sya’ban mendatang, dan banyak sekali macam ibadah yang mengandung berbagai anugrah, diantaranya adalah memperbanyak bacaan shalawat kepada Nabi Agung Muhammad saw.

اَلْحَمْدُ لله على نعمه فى شهر رجب من اسراء معراج النبي صلى الله عليه وسلم الذى جعل هذا اليوم من أعظم الأيام البركة والرحمة. أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهم صَلَّى عَلَى سيدنا محمد وَعَلَى أله وَصَحْبِهِ مَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. أَيَّهُا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بتقوالله وقد فازالمتقون

Ma’asyiral  Muslimin Rahimakumullah
Marilah bersama-sama kita tingkatkan kwalitas taqwa kita kepada Allah swt. bertaubatlah selalu kepada Allah dengan meminta ampunan kepadanya. Bahwasannya surga yang luasnya sebanding dengan langit dan bumi disiapkan untuk mereka yang bertaqwa وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Maka dari itu bersegeralah bertaubat dan minta ampunan kepada Allah swt selagi jiwa masih dikandung badang, selama waktu masih banyak yang senggang, karena pada waktunya nanti pintu taubat akan tertutup  قال عليه الصلاة والسلام إن التوبة مبسوطة مالم يغرغر ابن أدم بنفسه
Bahwa waktu taubat diberikan Allah sangat panjang untuk anak adam, sebelum sakaratul maut datang.

Ayyuhal muslimunal hadirun Rahimakumullah
Alhamdulillah hari ini kita masih bersama menikmati hari Jum’at yang mulia. Hari jum’at terakhir di Bulan Rajab. Apakah yang sudah kita lakukan pada Bulan Rajab kali ini? Sudahkan kita memanfaatkan berbagai fadhilah yang terkandung di dalam bulan Rajab ini? Andaikan belum bersegeralah, masih tersisa lima hari sebelum kita memasuki bulan Sya’ban mendatang, dan banyak sekali macam ibadah yang mengandung berbagai anugrah, diantaranya adalah memperbanyak bacaan shalawat kepada Nabi Agung Muhammad saw. Mengenai keutamaan ini Rasulullah saw sendiri meriwayatkan sebuah hadist:

روى عن النبى صلى الله عليع وسلم انه قال: “رأيت ليلة المعراج نهراً ماؤه أحلى من العسل وأبرد من الثلج وأطيب من المسك ,فقلت لجبرائيل لمن هذا؟ قال: لمن صلى عليك فى رجب “

Bahwa Rasulullah saw bersabda: Pada malam mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakah sungai ini ?”Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajab.

Dalam kitab An-Nawadir diterangkan bahwa dibelakang Jabal Qaf (nama sebuah gunung) ada bumi warnanya seperti perak, besarnya tujuh kali dunia, bumi itu terisi penuh dengan malaikat. Begitu padatnya jumlah malaikat, jikalau sebuah jarum terjatuh pastilah akan menyentuhnya terlebih dahulu sebelum sampai ke bumi. Para malaikat itu memegang bendera yang tertulis La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Para malaikat itu berkumpul setiap malamnya bulan Rajab  di tempat itu perlu untuk bertadharru’ dan mendo’akan keselamatan umat Muhammad saw. Mereka berdo’a ‘ya Allah berilah rahmat umat Muhammad saw dan janganlah engkau adzab mereka‘ dan Allh-pun mengampuni segenap umat Muhammad saw.
Sekali lagi, kejadian itu hanya ada dalam bulan Rajab bukan bulan yang lain.

Para hadirin Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah
Tidak hanya memperbanyak shalawat saja yang bernilai lebih di bulan Rajab tetapi juga berbagai macam ibadah di dalamnya dan diantaranya adalah puasa di bulan rajab. Sebuah hadits  menerangkan tentang hal ini

أخرج البخارى ومسلم عن النبى صلى الله عليه وسلم انه قال “أن فى الجنة نهراُ يقال له رجب أشد بياضاُ من اللبن وأحلى من العسل , من صام يوماُ من رجب سقاه الله من ذللك النهر”

Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut”
Begitu specialnya bulan Rajab hingga Imam Imam Syafi’i pernah mengatakan, bahwa ada lima malam yang sangat mustajab untuk berdoa, di antaranya adalah malam pertama dari bulan Rajab.

بَلَغْنَا أنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِىْ خَمْسِ لَيَالٍ: لَيْلَةِ اْلجُمْعَةِ, وَالعِيْدَيْنِ, وَأَوَّلِ رَجَبَ, وَنِصْفِ شَعْبَانَ. قَالَ: وَاسْتَحَبُّ كُلُ مَا حَكَيْتُ فِىْ هَذِهِ اللَّيَالِيْ

Artinya: Telah sampai kepada kami riwayat bahwa doa akan lebih besar kemungkinan dikabulkan pada lima malam. Yakni pada malam Jum’at, malam Idul Fithri, malam Idul Adha, malam awal bulan Rajab, dan pada malam Nishfu Sya’ban. Imam Syafi’i berkata kembali, “Dan aku sangat menekankan (untuk memperbanyak doa) pada seluruh malam yang telah aku ceritakan tadi.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Oleh karena itu, marilah hari-hari yang tersisa di bulan Rajab ini kita manfaatkan semaksimal mungkin sebagai momentum pengumpulan pund-pundi amal kebaikan sebagai investasi di hari akhirat kelak. Demkian khutbah kali ini yang sangat sekedar mengingatkan adanya sisa hari di bulan rajab berkah ini.
Semoga kita semua akan masih dapat merasakan bulan Rajab pada tahun yang akan datang.