mienblog

Blog Staff Universitas Brawijaya

PROGRAM MAHASISWA WIRAUSAHA UB 2013

LAPORAN TAHAP AKHIR

……………………………. (JUDUL USAHA)

 

 

 

 
 

 

 

Lambang UB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama …………………. NIM…………………….

 

 

 

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013

 


 

 

 

 

 

IDENTITAS USAHA

 

 

Nama Usaha                  :

Alamat Usaha                :

No. Telp/Fax                  :

e-mail                               :

Jumlah Pendanaan PMW : Rp ……………………………………….

 

 


SURAT PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB

 

Saya yang bertandatangan di bawah ini:

 

Nama                                                :

NIM                                                   :

Alamat sekarang                          :

Alamat asal                                     :

Nama Usaha                                  :

Alamat Usaha                                :

Jumlah Dana PMW diterima    :

 

Dengan ini menyatakan bahwa laporan yang saya buat adalah sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dan bersedia bertanggungjawab atas isi laporan tersebut.

 

Malang, ……………………………,2013

 

 

(…………nama…………………..)

 

MENGETAHUI

 

Ketua Program mahasiswa Wirausaha                                                                    DOSEN PEMBIMBING

 

 

Prof.Dr.Ir. Budi Setiawan,MS                                                                                      ——————————–

NIP. 19550327 198103 1003                                                                                          NIP

Pembantu Rektor

Bidang Kemahasiswaan

 

 

 

 

IR. H. RB. AINURRASJID, MS

NIP : 19550618 198103 1 002

 

 

RINGKASAN PERKEMBANGAN USAHA

Periode bulan ……………… s.d. bulan ………………………

No

Uraian

Keterangan

1

Jumlah Dana PMW yang disetujui

Rp ………..

2

Jumlah Dana PMW yg turun s.d. saat ini

Rp ………..

3

Jumlah tambahan dana di luar PMW s.d. saat ini

Rp ………..

4

Total penggunaan Dana PMW s.d. saat ini

Rp ………..

5

Total penggunaan dana usaha (PMW + di luar PMW)

Rp ………..

6

Saldo Kas per saat ini (tgl ……../…………../2012)

Rp ………..

7

Asset yang dimiliki :

  1. Kas
  2. Piutang Usaha
  3. Persediaan Bahan Baku
  4. Persediaan Barang Dagangan
  5. Peralatan
  6. Lain lain
  7. Total Asset (total a s.d. f)

 

Rp …………..

Rp …………..

Rp……………

Rp …………..

Rp …………..

Rp …………..

Rp …………..

8

Total Hutang Usaha saat ini

Rp …………….

9

Daftar Nama Investor di luar PMW (jika ada)

………………………….. (isikan jumlahnya)

10

Penjualan Periode ini

Rp ……………………

11

Laba Usaha Periode ini

Rp …………………..

12

Jumlah Pelanggan s.d. saat ini

……………………… (isikan jumlahnya)

13

Daerah Pemasaran

……………………… (sebutkan dimana saja)

14

Jumlah Karyawan yg dipekerjaan di luar tim PMW

…………………….. (sebutkan namanya)

15

Kondisi Lokasi Usaha saat ini

Bagus/Cukup/Kurang (pilih salah satu)

16

Kondisi Peralatan Usaha saat ini

Bagus/Cukup/Kurang (pilih salah satu)

17

Kondisi Keuangan secara umum

Bagus/Cukup/Kurang (pilih salah satu)

18

Perkembangan/Potensi usaha ke depan

Bagus/Cukup/Kurang (pilih salah satu)

19

Masalah  yang dihadapi

  1. Keuangan
  2. Pemasaran
  3. Produksi/Operasi
  4. SDM

 

Ya/tidak

Ya/tidak

Ya/tidak

Ya/tidak

20

Jumlah konsultasi dengan pembimbing cluster s.d. saat ini

…………… (isikan jumlahnya)

 

 

Format Laporan Arus Kas

 

 

Format Laporan Laba Rugi (Perusahaan Jasa)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Format Laporan Laba Rugi (Perusahaan Dagang/Manufaktur)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran Perhitungan Harga Pokok Penjualan

 

 

 

Lampiran Daftar Produk

 

 

Lampiran Daftar Karyawan

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran Daftar Aset

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran Daftar Karyawan

 

 

 

PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN AKHIR PMW

 

Halaman Cover

Identitas Usaha

Surat Pernyataan Tanggungjawab

Ringkasan Perkembangan Usaha

 

BAB 1 PERKEMBANGAN USAHA S.D SAAT INI

1.1. Aspek Pemasaran

Ungkapkan tentang perkembangan jumlah penjualan, jumlah pelanggan, pangsa pasar (daerah, jenis pelanggan), produk-produk yang berhasil dijual. Ungkapkan juga pendapat pelanggan tentang produk yang anda hasilkan dan potensi penjualan ke depan.

1.2. Aspek Operasional

Ungkapkan tentang proses operasional usaha anda (proses produksi barang/jasa). Ungkapkan juga  jumlah dan jenis produk/jasa yang telah dihasilkan. Jika usaha anda manufaktur/dagang, ungkapkan juga proses memperoleh bahan baku/barang dagangan dan bagaimana anda mengatur manajemen persediaan dan ketersediaan stoknya.

Perlu juga dikupas tentang gedung dan peralatan yang digunakan (mulai jumlah, kondisi, serta tingkat penggunaannya (padat/banyak menganggur).

1.3. Aspek SDM

Kemukakan jumlah SDM yang digunakan dan kemampuan/spesifikasi SDM yang dimiliki dalam rangka memenuhi target penjualan, kapasitas produksi, dan proses administrasi. Ungkapkan kebijakan SDM yang diambil mulai dari rekruitmen, penggantian, penggajian, dan penghargaan bagi mereka. Jangan lupa juga tuliskan usaha-usaha yang sudah dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM-nya.

1.4. Aspek Keuangan

Ungkapkan tentang:

  1. Perkembangan laba yang dicapai pada periode pelaporan dan bandingkan dengan periode-periode sebelumnya atau target laba yang ingin dicapai.
  2. Perkembangan jumlah asset yang dimiliki (total asset) dan sumber perolehan asetnya. Asset yang dimaksud bisa berupa asset lancar (kas, piutang, persediaan bahan baku/barang dagangan, atau beban dibayar di muka), dan asset tidak lancar (peralatan dan gedung)
  3. Perkembangan jumlah modal yang disetor ke usaha dan sumber-sumbernya
  4. Perkembangan jumlah hutang dan piutang yang dimiliki (jika ada) dan bagaimana kebijakan pelunasannya

 

BAB 2 KENDALA YANG DIHADAPI DAN RENCANA TINDAK LANJUT

2.1. Kendala yang Dihadapi

Tuliskan kendala-kendala yang dihadapi oleh usaha anda apakah dari sisi pemasaran, produksi/operasi, SDM, dan keuangan (jika memang ada)

2.2. Solusi dan Tindak Lanjut

Ungkapkan berbagai alternative solusi  yang mungkin dilakukan dan solusi yang dipilih dalam waktu dekat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

 

BAB 3 TARGET KINERJA DAN STRATEGI PENCAPAIANNYA

1.1. Target Kinerja 3 bulan ke depan

Ungkapkan target yang ingin dicapai baik dari segi keuangan, pemasaran, operasional, dan SDM agar anda lebih termotivasi untuk mencapainya

1.2.  Strategi Pencapaian Kinerja

Sebutkan upaya-upaya/langkah yang akan dilakukan untuk mencapai kinerja tersebut

 

LAMPIRAN:

  1. Laporan Arus Kas
  2. Laporan Laba Rugi
  3. Daftar Produk
  4. Daftar Karyawan
  5. Daftar Aset
  6. Daftar Hutang/Piutang
  7. Foto-Foto Kegiatan

 

 

Allah swt memberikan bakat yang berbeda-beda dalam diri manusia. Ada olahragawan, ada petani, ada budayawan, ada agamawan, ada seniman dan lain seterusnya. Semua itu Allah ciptakan demi keberlangsungan hidup umat manusia, sekaligus menjadi cobaan bagi mereka. apakah yang diperbuatnya dengan modal bakat yang diberikan oleh Allah swt kepadanya?

 

Marilah kita bersama-sama berusaha menaikkan derajat ketaqwaan kita dengan memperkokoh bangunan persaudaraan sesama muslim dan juga menjalin hubungan yang luas dengan umat lain. Sesungguhnya yang demikian itu sangat diridhai Allah swt.

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia selalu hidup bersama. Tidak seorangpun kuasa hidup sendiri tanpa ada yang lainnya. Keterbatasan seorang individu baik dalam kuasa maupun karya, mau tidak mau akan membawanya berhubungan dengan manusia lainnya. Hal ini menjadikan seseorang sangat tergantung dengan orang lain. Mata rantai ketergantungan ini terus menerus bersambung tiada putus dan tiada kenal batas agama, ideologi maupun kepercayaan. Demikianlah seseorang selalu memerlukan orang lain dalam rangka memenuhi keperluan hidupnya. Sekecil apapun keperluan itu, selalu saja ada tangan orang lain disana. Sekedar conoth saja, untuk menikmati sepeiring nasi seseorang harus berhubungan dengan penjual beras, kuli pasar pemikul beras, alat transportasi, petani, penggilingan padi, pupuk, pabrik pupuk, dan demikikanlah seterusnya.

Demikianlah hikmah Allah swt memberikan bakat yang berbeda-beda dalam diri mausia. Ada olahragawan, ada petani, ada budayawan, ada agamawan, ada seniman dan lain seterusnya. Semua itu Allah ciptakan demi keberlangsungan hidup umat manusia, sekaligus menjadi cobaan bagi mereka. apakah yang diperbuatnya dengan modal bakat yang diberikan oleh Allah swt kepadanya? demikianlah Allah menerangkan dalam al-Maidah 48

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, 

Namun demikian harmonisme yang secara teori sangat dibutuhkan dalam menjaga keberlangsungan kehidupan umat manusia ini, terkadang susah sekali ditemukan. Ketamakan dan keserakahan seringkali merusak harmoni kehidupan ini. Bukankah ketamakan para pedagang Eropa yang dulu melahirkan kolonialisme di bumi Nusantara. Tingginya harga rempah-rempah (cengkeh, lada,fuli, dll) di Eropa menggiurkan nafsu mereka untuk memonopoli perdagangan di Nusantara. Dengan memaksa pribumi menjual hasil buminya dengan harga serendah mungkin, untuk kemudian dijual di Eropa dengan harga yang melangit? Keuntungan yang berilipat ganda itulah yang memunculkan setan tamak dalam diri mereka sehingga tega merusak harmoni kehidupan di Nusantara. itulah ketamakan .

Ketamakan dan kerakusan selalu ingin menghapus jasa orang lain dalam kehidupannya. Seolah dia dapat hidup sendiri tanpa ada orang lain. Entah dengan kekuatan yang dimilikinya maupun dengan harta  bendanya. Sekali lagi manusia sering tidak sadar bahwa antara satu dengan yang lainnya ibarat mesin arloji yang saling berhubungan. Apabila satu rusak, maka rusaklah segalanya. Demikianlah adanya kehidupan didunia ini saling berhubungan dengan sangat eratnya. Tidak hanya dalam kehidupan sosial manusia tetapi juga dalam ekosistem alam dunia. Bukankah adanya banjir yang disebabkab oleh air, selalu berhubungan dengan gundulnya hutan?

Sejarah selalu mencatat seringnya kegagalan manusia mengelola hubungan antar sesama, hanya karena ketidak mampuan mereka mengekang nafsu ketamakan dan keserakahan. Dan itulah drama kehidupan dalam dunia ini yang cerita utamanya selalu muncul dari perbedaan dan kesenjangan. Oleh karena itulah Allah swt menurunkan kitab-kitabnya dan Rasulnya sebagai buku petunjuk merajut kebersamaan. Karena pada dasarnya manusia adalah satu kelompok besar yang saling bertautan. Al-Baqarah 213 telah menegaskan hal ini

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ …

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata,

Akan tetapi perbedaan yang diciptakan Allah sebagai sebuah anugrah untuk saling melengkapi malah sering kali disalah pahami dan disalah gunakan menjadi alat saling bersaing, saling menindas dan saling unjuk kekuatan. Dan itulah realita kehidupan semenjak generasi Adam pertama (Qabil dan Habil) hingga hari ini.

Oleh kerena itulah Rasulullah saw selalu menghimbau kepada umatnya agar bersatu-padu dalam berbagai keadaan. Al-muslimu kaljasadil wahid orang Islam bagaikan satu tubuh utuh yang kalau terjadi kesakitan salah satu organnya yang lainpun merasa sakit.  Kaki terkilir akan menyebabkan tubuh meriang dan kepala pusing. Itulah ibaratnya sebuah kesatuan yang utuh.

Dalam hdits yang amat terkenal Rasulullah saw bersabda

 الْمُسْلِمُ لِلْمُسْلِمِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا “

Orang muslim bagaikan satu bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan satu dan lainnya.

Demikianlah pentingnya persatuan diantara umat manusia dan bagi komunitas muslim khususnya. Oleh karena itulah membangun persatuan sesama muslim adalah kewajiban dan menjalin hubungan dengan umat manusia seluruhnya adalah sebuah kepentingan yang tak terelakkan. Hanya saja hubungan ini haruslah didasari dengan peraturan-peraturan dan kaedah syariah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Tentunya berbeda model kerjasama sesama muslim dengan umat agama lain. Kerjasama boleh saja dijalin dengan umat agama lain asalkan tidak dalam masalah aqidah dan ubudiyah. Kerjasama harus tertulis dengan perjanjian yang tidak merugikan kedua belah pihak tentunya. Demikian perintah Allah sebagaimana termaktub dalam Ali Imran 112

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمْ الذِّلَّة أَيْنَمَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنْ اللَّه وَحَبْل مِنْ النَّاس

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia

 Jikalau kebersamaan telah tercipta maka pastilah hamoni kehidupan pun terlaksana. Harmonisme kehidupan ini merupakan berkah langsung dari Allah swt. sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi

يد الله على الجماعة

Tangan Allah berada diatas kebersamaan.

Namun sebaliknya, sungguh Allah dengan nyata telah mengancam manusia yang dengan sengaja meruntuhkan harmonisme kehidupan ini dengan merusak persatuan yang telah terbangun dengan rapih.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

Demikianlah tulisan ini semoga memberikan inspirasi bagi kita semua untuk menyadari beberapa hal pertama, kompleksitas kehidupan yang sangat tinggi tidak memungkinkan manusia hidup sendiri saja ataupun mengandalkan kelompoknya saja. Oleh karena itu fanatisme tidak dapat lagi diberlakukan di sini. Kedua, pentingnya membangun persatuan antar umat muslim sebagaimana diperintahkan Rasulullah saw. ketiga, perlunya menjalin hubungan dengan umat lain dengan tatacara dan tatatertib sesuai aqidah Islam.

 

Ibadah dilihat dari segi jenisnya terbagi menjadi dua, pertama adalah Ta’abbudi; yaitu ibadah yang tidak ada alasannya kenapa dilakukan, seperti contoh shalat mahgrib dikerjakan dengan tiga rakaat, karena hal itu sudah ketetapan dari Allah bahwa shalat maghrib dilaksanakan tiga rakaat.

Kedua adalah Ta’aqquli; yaitu ibadah yang ada sebab dan alasannya, seperti membersihkan anggota badan dari najis, karena jika terdapat najis pada anggota badan seseorang maka ia harus membersihkannya terlebih dahulu jika hendak menjalankan shalat.

Sebagaimana terdapat dalam Kitab Taisir Ilmi Ushulil Fiqh karya Imam Al-Anazi,

التعبد هو ما لا يُعقلُ معناهُ ولا تُدركُ علَّتهُ، وأما التعقل ما ليس منه

Ta’abbud adalah jenis ibadah yang tidak sebab dan alasannya, sedangkan Ta’aqquli adalah ibadah yang ada sebab dan alasannya.

Kedua jenis ibadah ini senantiasa harus dikerjakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’, semisal menjalankan shalat subuh dua rakaat, maka seseorang tidak boleh menjalankannya menjadi tiga rakaat atau lebih karena ketentuan dua rakaat adalah ketetapan dari Allah dan tidak perlu ada pertanyaan kenapa harus dikerjakan dua rakaat.

Terkadang kita dapati seseorang mencari sebab dan alasan kenapa ibadah ini dikerjakan demikian, lalu ia berdalih selama tidak menemukan sebab dan alasan ia tidak mengerjakan ibadah tersebut, maka hal ini tidak diperbolehkan. Karena jenis ibadah yang Ta’abbudi memang tidak memberi ruang gerak pada akal untuk mencari-cari kenapa dan mengapa, tetapi kerjakan saja sebagaimana ia diperintahkan.

Demikianlah ketentuan dua jenis ibadah yang mempunyai dua pengertian berbeda namun harus dikerjakan semuanya, jika seseorang tidak mengetahui kenapa shalat isya’ dikerjakan empat rakaat, kenapa shalat maghrib hanya tiga rakaat, kenapa shalat subuh hanya dua rakaat, maka kita kembalikan pada asalnya bahwa shalat isya’, maghrib dan subuh adalah wajib hukumnya, dan tidak ada dalih untuk tidak mengerjakan hanya karena tidak mengetahui alasannya. (Pen. Fuad H/ Red. Ulil H)

Dzun Nun al-Mishri pernah dibuat khawatir oleh seekor kalajengking. Binatang berbisa tersebut menghadangnya saat ia hendak mencuci pakaian di tepi sungai Nil. Dzun Nun al-Mishri melihat kalajegking itu bertubuh lumayan besar. Racunnya mengancam nyawa siapa saja yang ia sengat.

Kecemasan Dzun Nun al-Mishri berujung pasrah. Perlindungan Tuhan adalah harapan dia satu-satunya. Beruntung, kalajengking yang tengah mendekat itu tiba-tiba berbelok arah dan kian menjauh dari tempat Dzun Nun al-Mishri berada. Artinya, doa tokoh sufi ini terkabul.

Tetapi, si kalajengking ternyata menuju sebuah pohon yang tetap saja membuat Dzunnun al-Mishri cemas. Di bawah pohon besar dan rindang itu terlentang seorang pemuda yang sedang mabuk. Perasaan gundah kembali menyergap. Dzunnun al-Mishri betul-betul takut, keganasan racun kalajengking akan mengakhiri hidup pemuda tak berdaya itu.

Belum tuntas perasaannya diaduk-aduk oleh aksi kalajengking, dia menyaksikan seeokor ular besar sudah siap lebih dulu mematuk tubuh pemuda mabuk tersebut. Tentu bisa ular sama mematikannya dengan bisa kalajengking.

Kalajengking mendekat. Begitu pun ular. Dan… “Syeeeess…!”

Tak ada luka sama sekali di tubuh pemuda itu. Karena memang yang terjadi justru pertarungan antara kalajengking dan ular. Singkatnya, kalajengking berhasil menusuk kepala ular hingga tak bergerak. Setelah membunuh ular tersebut, kalajengking ini mengeloyor begitu saja meninggalkan si pemuda.

“Kalejengking itu menyelamatkan nyawa manusia!” batin Dzun Nun al-Mishri. Dia takjub, binatang yang semula ia anggap sebagai pembunuh manusia justru telah berjasa menyelamatkan manusia dari maut. Bahkan untuk seorang pemabuk.

Dzun Nun al-Mishri melantunkan syair dan menceritakan kepada pemuda tentang peristiwa yang baru saja menimpa diriya selama tak sadarkan diri. Syair dan penjelasan Dzun Nun al-Mishri pelan-pelan mencairkan hati si pemabuk.

Tragedi yang mengancam hidupnya itu membuat pemuda tersebut insaf, betapa mahaluas kasih sayang Allah kepada makhluk. Sifat rahman-Nya di dunia ini meluber kepada apa saja dan siapa saja, termasuk kepada pembangkang seperti dirinya. (Mahbib)sumber nu online

Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional menyatakan bahwa anggapan merayakan maulid Nabi saw. adalah bid’ah, dan setiap bid’ah pasti sesat, dan setiap yang sesat pasti masuk neraka, tidak semuanya benar.

Beliau meluruskan, yang kita ingkari dalam hal perayaan maulid adalah ketika ada pencampuradukkan dengan kemungkaran, ketika perayaan maulid itu bercampur-aduk dengan hal-hal yang menyalahi syari’at, ketika perayaan maulid itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an, sebagaimana praktek-praktek ini masih ada di sebagian negara Islam.

Contohnya, praktek syirik, dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.

Jika peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw, mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah tegaskan sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Ketika acara maulid seperti itu, apa masih ada alasan disebut dengan bid’ah?
Pernyataan beliau yang dimuat dalam media online pribadi beliau itu juga ditambahkan:

“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Sedangkan bila kita membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”

Allah swt. memerintahkan demikian kepada kita dalam banyak firman-Nya. Misalnya:

يا أيها الذين آمنوا اذكروا نعمة الله عليكم إذ جاءتكم جنود فأرسلنا عليهم ريحاً وجنوداً لم تروها وكان الله بما تعملون بصيرًا، إذ جاءوكم من فوقكم ومن أسفل منكم وإذ زاغت الأبصار وبلغت القلوب الحناجر وتظنون بالله الظنونا

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikuruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (Al-Ahzab:9-10)

Allah memerintahkan kita mengingat suatu peperangan, misalnya perang Khandaq atau perang Ahzab, di mana kafir Quraisy dan Suku Ghathfan mengepung Rasulullah saw. Dalam kondisi serba sulit ini, Allah swt. menurunkan bala bantuannya berupa angin kencang dan bantuan Malaikat. Ingatlah peristiwa itu, ingatlah, jangan kalian lupakan itu semua.
Ini jelas menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk mengingat nikmat dan tidak melupakannya.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

يا أيها الذين آمنوا اذكروا نعمة الله عليكم إذ هم قوم أن يبسطوا إليكم أيديهم فكف أيدهم عنكم واتقوا الله وعلى الله فليتوكل المؤمنون

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal:30)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ telah besepakat untuk mengkhianati Rasulullah saw. di Madinah, mereka membuat makar, mereka membuat tipu daya, namun makar dan tipu daya Allah swt. lebih kuat dan lebih cepat dari mereka.

ويمكرون ويمكر الله والله خير الماكرين

Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar (juga), Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.”

Perayaan yang demikian tidaklah bid’ah, bahkan dianjurkan. Wallahu a’lam (Ngabdurrahman al-Jawiy)

Memasuki bulan Rabi’ul Awal atau yang dikenal orang jawa dengan “bulan mulud”, ada tradisi yang senantiasa dilestarikan oleh sebagian umat Islam, yaitu tradisi baca Al-Barjanzi atau Burdah dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Tradisi ini biasanya diselenggarakan dari rumah kerumah secara bergiliran, atau di masjid-masjid maupun mushalla, dengan cara membaca shalawat secara bersama-sama dimana salah satu dari yang hadir membaca Al-Barjanzi tersebut, sedangkan yang tidak membaca dianjurkan menjawab dengan bacaan shalawat.Setelah acara usai dilanjutkan dengan jamuan makan bersama. Entah makanan itu berupa maknan ringan, snack, ataupun lainnya. Kadang kala juga hanya sekedar minuman teh atau kopi.

Semarak membaca Al-Barjanzi ini tiada lain bertujuan untuk bershalawat, memanjatkan doa untuk Nabi Muhammad sebagai nabi yang telah memberi perubahan dari jaman kegelapan jahiliyah menjadi jaman pencerahan Islam. Meskipun doa kita sebagai hamba tidak dibutuhkan Rasulullah saw, mengingat posisinya sebagai makluk yang paling utama, tetapi bagi kita doa itu sendiri adalah ibadah. Sebagaimana hadits riwayat dari Nu’man Bin Basyir Radliyallahu Anhu, إِنَّ اَلدُّعَاءَ هُوَ اَلْعِبَادَة  Doa adalah ibadah yang berpahala.

Dalam penyelenggaraan membaca Al-Barjanzi tersebut menyimpan beberapa macam ibadah, diantaranya adalah, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad, bersedakah berupa makanan, berdoa dan mendoakan, mengingat perjuangan para pendahulu dengan maksud dan tujuan mengambil hikmah dan pelajaran dari masa mereka.

Tentunya dibalik semua ibadah-ibadah diatas ada keberkahan dan anugerah yang akan diterima jika memang menjalankannya tulus karena mengharap pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hadits berikut memberi penjelasan mengenai keutamaan membaca shalawat, sebagaimana riwayat sahabat Ibnu Mas’ud Radliyallahu Anhu,

إِنَّ أَوْلَى اَلنَّاسِ بِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ, أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

Orang yang paling utama berada denganku kelak di hari kiamat adalah mereka yang banyak membaca shalawat kepadaku.

Sungguh keberkahan tiada tara bagi siapa saja umat muslim diantara mereka yang senantiasa memperbanyak membaca shalawat kecuali balasan pahala dari Allah Subhanu Wa Ta’ala, dengan menempatkannya bersama Nabi Muhammad.

Maka di bulan rabi’ul awal ini kita senantiasa membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan banyak mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dengan maksud dan tujuan mendapat keberkahan dan rahmat serta pertolongan sari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Pen. Fuad H/ Red Ulil H)sumber NU Online

Banyak sekali media yang membahas pentingnya percaya diri, bahkan sampai-sampai banyak sekali lembaga pendidikan non formal yang memberikan pelatihan cara meningkatkan percaya diri. Rasa percaya diri sangat berperan bagi Wirausahawan dalam mencapai kesuksesan. Permasalahannya apakah sekarang anda termasuk orang yang percaya diri?

Apabila anda tidak mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, maka kemungkinan anda untuk menjadi pengusaha sukses akan sangat kecil sekali. Coba perhatikan siklus berikut ini :

Percaya diri => tindakan => sukses => Jejak Sukses => Percaya diri

Tampak pada siklus diatas dengan sikap percaya diri kita akan bertindak yang mengarah dan menghasilkan buah kesuksesan. Kualitas tindakan kita sangat bergantung dengan besarnya percaya diri yang kita miliki, semakin besar maka semakin bagus. Kalau sangat besar kemungkinan sukses akan semakin besar. Selanjutnya kesuksesan yang kita raih akan menghasikan jejak sukses dalam pikiran kita. Dan selanjutnya jejak sukses akan menghasilkan percaya diri lagi, begitu lah siklus yang berlangsung dalam pikiran kita. Sekarang coba perhatikan juga siklus berikut :

Rendah diri => Tidak ada tindakan => tidak ada hasil

Rendah diri => Tindakan tidak optimal => Hasil tidak optimal

Tampak jelas pada siklus diatas bahwasannya rendah diri menyebabkan kita tidak bertindak sama sekali sehingga tidak ada hasil karena memang kita kita tidak bertindak. Rendah diri juga bisa saja menyebabkan kita bertindak tetapi tindakan yang kita lakukan tidak optimal, sehingga hasilnya pun tidak optimal. Rendah diri juga bisa menyebabkan kegagalan dalam berbisnis dan pada akhirnya juga akan menimbulkan jejak gagal seperti siklus sebagai berikut :

Rendah diri—>Tindakan—>gagal—>Jejak Gagal

Sekarang coba ada jawab denga jujur dalam hati beberapa pertanyaan berikut ini :

  1. Apakah anda tidak memiliki sesuatu keinginan, tujuan, target yang diperjuangkan ?
  2. Apakah anda tidak memiliki keputusan melangkah dengan kata lain decissive (mengambang) ?
  3. Apakah anda mudah frustasi atau menyerah ketika menghadapi masalah atau kesulitan (Kurang termotivasi untuk maju) ?
  4. Apakah anda  sering gagal dalam melakukan tugas atau tanggung jawab ?
  5. Apakah anda canggung dalam menghadapi orang ?
  6. Apakah anda tidak bisa mendemonstrasikan kemampuan berbicara dan mendengar yang meyakinkan dengan baik ?

Kalau ternyata kebanyakan anda menjawa ia, berarti anda termasuk orang yang tidak percaya diri atau kurang percaya diri.

Bagi anda yang tidak percaya diri atau kurang percaya diri, berikut tips cara meningkatkan percaya diri  :

  1. Selalu berpikir positif dan jangan berpikir negatif terhadap apa yang ada pada diri anda dan tanamkan keyakinan bahwa anda lebih baik dari apa yang anda pikirkan.
  2. Selalu memberi afirmasi postif kepada diri anda dengan demikian akan merangsang conscious mind (pikiran sadar) dan sub-conscious mind (pikiran bawah sadar) yang mampu meningkatkan keyakinan anda dalam melakukan tindakan.
  3. Cari dan temukan lingkungan yang dapat membantu self esteem / percaya diri anda berkembang dengan memperbanyak membaca buku-buku positif ataupun buku tentang motivasi dan bergaullah dengan orang-orang yang positif.
  4. Tentukan arah dan tujuan hidup anda dengan membuat goal-goal kecil yang akan mengantarkan anda mencapai tujuan karena sebuah goal besar merupakan rangkaian dari goal-goal kecil yang anda capai.
  5. Jangan menunda untuk melakukan tindakan karena dengan tindakan akan membuat keyakinan semakin kuat.
  6. Sikapilah kegagalan dengan bijaksana karena tidak menjadi masalah seberapa sering anda gagal yang penting seberapa sering anda bangkit dari kegagalan.

Jadilah orang yang percaya diri! Kalau sobat belum memiliki caranya maka belajarlah jadi percaya diri. Banyak-banyak lah membaca buku tentang percaya diri.

Semoga kata mutiara ini dapat menjadi pemicu spirit anda dalam menggapai kesuksesan :

“JANGAN MENYERAH KARENA LELAH, BIARKAN LELAH MENGAJARI KITA SAMPAI LELAH”

Sumber zona pengusaha.com

Sejumlah artikel banyak mengupas mengenai kekuatan mentan yang dibutuhkan semua orang utamanya kalangan pengusaha baru (entrepreneur).

Disisi lain, isu kekuatan mental juga bisa didefinisikan sebagai sifat atau sikap mental yang tak boleh dimiliki dari individu bermental kuat.

Mengutip laman Forbes, Minggu (22/12/2013), berikut adalah 14 sifat yang haram dimiliki kalangan pengusaha baru:

1. Menghabiskan waktu untuk memaafkan diri sendiri

Anda takkan melihat golongan pribadi bermental kuat merasa bersalah dengan keadaan atau tempat dimana dirinya salah diperlakukan. Para priubadi bermental baja selalu belajar untuk bertanggung jawab dengan setiap tindakan dan hasil yang dicapai.

2. Menyerahkan kekuasan

Kalangan pribadi bermental baja senantiasa menghindari menyerahkan kekuasan pada orang lain untuk membuat mereka merasa inferior atau jelek.

3. Malu terhadap perubahan

Pribadi bermental baja selalu menantang dan menyambut perubahan. Justru ketakutan terbesarny adalah ketika sesuata menjadi stagnan.

4. Menghabiskan energi untuk sesuatu yang tak bisa dikuasi

Kemacetan, kehilangan bagasi, bukanlah hal yang bisa membuat manusia bermental baja mengeluh banyak. Mereka sadar kejadian-kejadian kurang membahagiakan ini berada diluar kekuasannya.

5. Terlalu khawatir dalam menyenangkan orang lain

Manusia bermental kuat senantiasa berjuang untuk menjadi pribadi yang baik dan adil serta berupaya menyenangkan orang lain sesuai porsinya. Namun mereka juga tak takut untuk berbicara lantang.

6. Takut mengambil risiko terukur

Orang bermental baja akan selalu mengambil risiko yang sudah terukur. Mereka bisa mengukur risiko sekaligus mendapat keuntungan darinya.

7. Tinggal di masa lalu

Manusia bermental kuat senantiasa menghindari sifat yang menguras tenaga dengan mengingat kekecewaan terdahulu maupun bernostalgia dengan kejayaan masa lalu

8. Berulang kali melakukan kesalahan yang sama

Semua orang mungkin tahu level kegilaan seseorang yaitu ketika mereka melakukan aksi berulang kali sambil berharap hasil yang berbeda. Seornag bermental kuat justru mengambil tanggung jawab penuh dari perbuatannya di masa lalu dan belahar dari kesalahannya itu.

9. Benci dengan kesuksesan orang lain

Orang bermental kuat memiliki karakter yang kuat untuk merasakan kesenangan dan semangat dari kesuksesan orang lain. Mereka takkan iri atau benci ketika orang lain mendapat kesuksesan.

10. Menyerah setelah gagal

Setiap kegagalan adalah kesempatan untuk berkembang. Entrepreneur besar tak malu mengakui bahwa usahanya di awal senantiasa menghadapi sejumlah kegagalan. Orang bermental kuat mau untuk gagal lagi dan mengambil pelajaran dari kagagalan itu.

11. Takut sendiri

Manusia bermental juat justru menikmati bahkan menemukan kesenangannya ketika tengah menyendiri. Mereka menggunakan waktu menyendiri untuk merenung, membuat rencana, dan lebih produktif.

12. Merasa dunia berutang banyak

Dalam kondisi ekonomi saat ini, eksekutif dan pekerja di berbagai tingkatan semakin sadar bahwa dunia tak berutang gaji, paket keuntungan, maupun kehidupan yang menyenangkan bagi siapapun. Manusia bermental baja senantiasa memasuki dunia dan bersiap untuk bekerja dan meraih sukses dengan kecakapannya.

13. Mengharapkan hasil yang cepat

Manusia bermental baja tahu bahwa hasil pekerjaan tak harus selalu diketahui dengan cepat. Mereka ingin lebih tahu banyak daripada mengharapkan hasil secara instan.

Para manusia bermental kuat umumnya menghabiskan waktu dan energi untuk mengukur dosis dan merayakan setiap pencapaian yang diperolehnya.

Sumber liputan 6.com

 

Dalam wacana perburuan di Indonesia, outsourcing menjadi objek pembicaraan yang sangat penting. Tidak hanya masalah payung hukum yang belum jelas, tetapi juga masalah hak dan kewajiban serta praktik di lapangan yang dirasa sangat diskriminatif.      

Istilah outsourcing bukanlah hal yang asing lagi dalam wacana ketenagakerjaan di Indonesia. Istilah ini menjadi populer di awal tahun 2003 ketika pemerintah mengeluarkan UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan) terutama mengenai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT).

Walaupun secara lugas isitilah outsourcing tidak ditemukan di dalam undang-undang tersebut, tetapi pemahaman masyarakat terhadapnya semakin jelas. Outsourcing dianggap sebagai pokok masalah perburuhan di negera ini yang melahirkan berbagai ketidak adilan, kesewenag-wenangan dan diskriminasi. Hal ini dibuktikan dengan ramainya perlawanan kaum buruh yang menuntut adanya uji materi terhadap pasal 64, pasal 65 dan pasal 66 dari UU no 13 tahun 2003.

Di sisi lain usaha pemerintah mencari formulasi yang lebih baik dalam tatanan relasi keindustran ini terus berlanjut. Hingga muncul Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor 19 tahun 2012 yang mengtur tentang syarat-syarat penyerahan sebagian pelaksaan pekerjaan kepada perusahaan lain. Kembali dalam peraturan ini tidak ditemukan kata outsourcing. Nampakanya istilah outsourcing menjadi sebuah pemahaman bersama di tengah masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, perlu keseragaman terlebih dahulu dalam memahami outsourcing demi menemukan kesesuaian antara fiqih dan realita di lapangan. Jika Gambaran tentang outsourcing difahami dalam hubungan kerja yang melibatkan sebuah perusahaan yang telah menyewa/mengontrak seorang buruh lalu menyewakan/mengontrakkan kembali buruh itu kepada perusahaan lain. Atau dengan kata lain, manfaat tenaga kerja yang telah dimiliki tidak dimanfaatkan sendiri, tetapi dimanfaatkan oleh orang lain dengan akad ijârah. Hal ini sama dengan konsep ijarah dalam fiqih dan hukumnya boleh atau sah.

Ijârah pada hakikatnya termasuk akad jual-beli. Perbedaannya dengan jual-beli biasa ialah bahwa obyek akad (yang dibeli) dalam akad ijârah tidak berupa barang melainkan berupa manfaat, baik manfaat barang maupun manfaat orang (manfaat yang lahir dari pekerjaan orang/jasa). `Iwâdl/imbalan atas manfaat itu disebut ujrah, yang menjual disebut mu’jir/ajîr, dan yang membeli disebut musta’jir.

Dengan mencermati unsur-unsur ijârah tersebut, kita dapat memastikan bahwa akad kerjasama antara perusahaan dan buruh atau antara majikan dan karyawan (أرباب العمل وعمالهم) merupakan bagian dari-pada ijârah. Majikan sebagai musta’jir dan karyawan/buruh sebagai ajîr. Akad kerjasama tersebut sah sepanjang memenuhi syarat-syarat yang mengacu pada prinsip-prinsip kerelaan kedua belah pihak, upahnya jelas, jenis pekerjaan dan waktunya jelas, dan tidak ada unsur pemerasan (adamul istighlal). Dalam hal tersebut, tidak ada perbedaan antara buruh tetap dan buruh tidak tetap, yakni sama-sama sah dan boleh dilakukan sepanjang memenuhi syarat-syarat di atas. Demikianlah beberapa prinsip utama yang harus dipenuhi dalam berbagai macam hubungan muamalah.

Dengan demikian dibolehkan seorng musta’jir (penyewa) menyewakan kembali barang sewaannya kepada orang lain, baik dengan ujrah (upah) yang sama, lebih besar, maupun lebih kecil daripada ujrah pertama. Juga sama dengan bolehnya ajîr yang menerima kontrak untuk melakukan suatu pekerjaan, mengalihkan pekerjaan itu kepada ajîr lain dengan upah yang sama, lebih besar, atau lebih kecil daripada upah pertama. Pengusaha jasa outsourcing tak ubahnya seorang pemborong yang memiliki banyak karyawan dan mempekerjakan mereka pada proyek perbaikan jalan atau pembangunan rumah milik warga misalnya. Al-Nawawiy dan Ibn Qudâmah mengemukakan masalah ini di dalam kitab al-Majmû`

 

(فصل)

وَلِلْمُسْتَأْجِرِ أَنْ يُؤْجِرَ الْعَيْنَ الْمُسْتَأْجَرَةَ إِذَا قَبَضَهَا لِأنَّ الإجَارَةَ كَالْبَيْعِ وَبَيْعُ الْمَبِيْعِ يَجُوْزُ بَعْدَ الْقَبْضِ فَكَذَلِكَ إِجَارَةُ الْمُسْتَأْجِرِ، وَيَجُوْزُ مِنَ الْمُؤْجِرِ وَغَيْرِهِ كَمَا يَجُوْزُ بَيْعُ الْمَبِيْعِ مِنَ الْبَائِعِ وَغَيْرِهِ وَهَلْ يَجُوْزُ قَبْلَ الْقَبْضِ فِيْهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ (أَحَدُهَا) لَا يَجُوْزُ كَمَا لَا يَجُوْزُ بَيْعُ الْمَبِيْعِ قَبْلَ الْقَبْضِ (وَالثَّانِى) يَجُوْزُ لأنَّ الْمَعْقُوْدَ عَلَيْهِ هُوَ الْمَنَافِعُ، وَالْمَنَافِعُ لَا تَصِيْرُ مَقْبُوْضَةً بِقَبْضِ الْعَيْنِ، فَلَمْ يُؤَثِّرْ فِيْهَا قَبْضُ الْعَيْنِ (وَالثَّالِثُ) أَنَّهُ يَجُوْزُ إِجَارَتُهَا مِنَ الْمُؤْجِرِ لِأَنَّهَا فِي قَبْضَتِهِ، وَلَا يَجُوزُ مِنْ غَيْرِهِ لأنها لَيْسَتْ فِي قَبْضَتِهِ، وَيَجُوْزُ أَنْ يُؤْجِرَهَا بِرَأْسِ الْمَالِ وَبِأَقَلَّ مِنْهُ وَبِأَكْثَرَ لِأَنَّا بَيَنَّا أنَّ الإجَارَةَ بَيْعٌ وَبَيْعُ الْمَبِيْعِ يَجُوْزُ بِرَأْسِ الْمَالِ وَبِأَقَلَّ مِنْهُ وَبِأَكْثَرَ مِنْهُ، فَكَذلِكَ الإجَارَةُ

Hal yang sama juga dikemukakan di dalam Mausû`ah al-Fiqh al-Islâmiy:

وَإِنَّمَا يَجُوْزُ لِلْمُسْتَأْجِرِ أَنْ يُؤَجِّرَ الْعَيْنَ لِغَيْرِ مُؤْجِرِها اِذَا تَسَلَمَّهَا، نَصَّ عَلَى ذلِكَ أَحْمَدُ وَهُوَ قَوْلُ سَعِيْدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَأَصْحَابُ الرَّأْيِ

Jadi, pada dasarnya tidak ada yang dikhawatirkan dari outsourcing. Namun jika dalam kenyataan, sistem buruh outsourcing sarat dengan pemerasan seperti keharusan buruh yang mengundurkan diri menebus ijâzah yang dititipkan sebagai jaminan dengan harga sangat tinggi, di samping pemotongan upah pada bulan pertama sampai 50%, maka Fikih Islam dengan tegas mengatakan bahwa outsourcing tersebut tidak sah dan tidak boleh dilakukan.

Az-Zuhailiy dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh mengemukakan penjelasan sebagai berikut:

وَتَحْرِيْمُ الْاِسْتِغْلَالِ شَامِلٌ اسْتِغْلالَ رَبِّ الْعَمَلِ فَقْرَ الْعَامِلِ فَيَظْلِمُهُ، وَاسْتِغْلَالَ التَّاجِرِ حَاجَةَ الْمُسْتَهْلِكِ، فَيُغْلِيْ قِيْمَةَ السِّلْعَةِ، أَوْ جَهْلَ الْمُنْتِجِ أَوْ الْمُصْدِرِ، فَيَشْتَرِيْ بِضَاعَتَهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ (تَلَقِّي الرُّكْبَانِ)، أَوْ سَذَاجَةَ البَدَوِيِّ فَيَبِيْعُهُ السِّلْعَةَ بِأَزْيَدَ مِنْ ثَمَنِهَا (بَيْعُ الَحاضِرِ لِلْبَادِيْ

Adapun mngenai pesangon az-Zuhaily menegaskan perluna ada undang-undang yang mengharuskan perusahaan memberi pesangon kepada buruh outsourcing, karena pemberian pesangon tidak menjadi kewajiban yang mengikat kecuali ada undang-undang yang mewajibkan, atau ada perjanjian yang disepakati kedua belah pihak.

مُكَافَأَةُ نِهَايَةِ الْخِدْمَةِ: هِيَ حَقٌّ مَالِيٌّ يُوْجِبُهُ الْقَانُوْنُ أَوِ الْعَقْدُ لِلْعَامِلِ أَوِ الْمُوَظَّفِ بِشُرُوْطٍ، وَيُقَدَّرُ بِحَسَبِ مُدَّةِ الْخِدْمَةِ وَسَبَبِ انْتِهَائِهَا وَرَاتِبُ الْعَامِلِ وَالْمُوَظَّفِ يُدْفَعُ عِنْدَ انْتِهَاءِ الْخِدْمَةِ لِلْعَامِلِ أَوِ الْمُوَظَّفِ أَوْ لِعَائِلَتِهِمَا

 

Demikianlah hukum outcourcing dalam kacamata fiqih, karena pada prinsipnya muamalah dalam fiqih harus berdasarkan pada keadilan, kesetaraan, musyawarah dan tolong menolong yang dikenal dengan istilah al-mabadi’ al-ammah. (Sumber: LBM-PBNU, Hasil Bahtsul Masail Nasional, Yogyakarta 2-3 Juli 2013). (Pen/Red. Ulil H)

Sumber NU Online

Sebagaimana di ketahui dalam catatan sejarah, bahwa Nabi Muhammad saw. dan para sahabat beliau mengembangkan risalah Islam di Mekkah banyak menemui tantangan dan hambatan yang tidak ringan. Orang-orang Quraisy menentangnya. Mereka melakukan penganiayaan terhadap sahabat-sahabat beliau dengan tujuan agar Nabi saw menghentikan dakwahnya.

Masih di bulan Muharram ini memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah swt, yang telah memberikan nikmatnya kepada kita semua. Yaitu dengan menggunakan nikmat itu ke jalan yang di ridloi-Nya. Bersyukur atas nikmatnya, maka Allah pun akan menambah nikmat itu. Sebagaimana dalam surat Ibrahim ayat 7 Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab–Ku sangat pedih.”

Sebagai upaya meningkatkan iman dan taqwa kepadanya, maka melalui datangnya Tahun Baru Hijriyah ini kita menegok sejarah masa silam, masa perjuangan Nabi saw. Dan para sahabat-sahabat beliau menegakkan agama Allah.

Sebagaimana di ketahui dalam catatan sejarah, bahwa Nabi Muhammad saw. dan para sahabat beliau mengembangkan risalah Islam di Mekkah banyak menemui tantangan dan hambatan yang tidak ringan. Orang-orang Quraisy menentangnya. Mereka melakukan penganiayaan terhadap sahabat-sahabat beliau dengan tujuan agar Nabi saw menghentikan dakwahnya.

Semakin hari kekejaman dan penganiayaan semakin keras, namun sungguh suatu keajaiban, semakin keras penindasan dan dan semakin keras penganiayaan, islam pun semakin berkembang. Tidak satupun orang yang begitu masuk Islam lalu sudi keluar atau menjadi murtad, bagaimanapun kerasnya kekejaman dan penganiayaan yang mereka lakukan.

Makin hari kekejaman itu semakin menjadi-jadi, dan kemudian mencapai puncaknya. Mereka sepakat untuk menangkap dan membunuh Nabi saw. Dalam keadaan genting itulah, Rasulullah mendapat perintah hijrah ke Madinah. Maka berhijrahlah beliau berssama para sahabat menuju kota yatsrib, yang sekarang menjadi kota madinah.

Peristiwa hijrah ini menjadi tonggak perjuangan umat Islam untuk selanjutnya mereka tidak hanya dikagumi oleh kawan tapi juga disegani  oleh lawan. Peristiwa hijrah akan tetap relevan atau cocok dikaitkan dengan konteks ruang dan waktu sekarang ataupun yang akan datang. Nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa hijrah itu akan tetap kontekstual dijadikan rujukan kehidupan. Banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut. Diantaranya:

Pertama, hijrah merupakn perjalanan mempertahankan keimanan. Karena iman para sahabat sudi meniggalkan kampung halaman, meninggalkan harta benda mereka. Karena iman mereka rela berpisah dengan orang yang dicintainya yang berbeda akidah. Iman yang mereka pertahankan melahirkan ketenangan dan ketentraman batin, kalau batin sudah merasa tentram dan terasa bahagia, maka bagaimanapun pedihnya penderitaan dzahir yang mereka alami tidak akan terasa. Itulah mengapa sebabnya para sahabat mau berjalan di gurun pasir yang panas. Mereka melakukan perjalanan dari mekkah menuju madinah dengan bekal iman. Oleh karena itu, dalam memperingati tahun baru hijriyah ini, masihlah kita tanamkan keimanan dalam diri kita  sebagaimana imannya para sahabat. Dan diwujudkan dalam bentuk amal-amal saleh dalam kehidupan ini.

 iman akan membuat hidup seseorang jadi terarah. Kekuasaan dan kebebasan berfikir harus ada imbangannya. Allah tidak hanya menganugerahkan akal pada manusia, tapi juga hati. Kita memang butuh ilmu pengetahuan dan teknologi yang diimbangi dengan keimanan akan membuat manusia semakin sadar akan hakikat dirinya, timbul pengakuan sebagaimana tersebut dalam surah Ali imran ayat 191:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِل

Artinya: “Ya Tuhan kami tiada sia-sia Engkau menciptakan ini.”

Iman juga berfungsi untuk mengendalikan nafsu. Makhluk yang bernama Malaikat cuma dianugerahakan akal saja tanpa nafsu, karena itu tidak ada malaikat yang mendurhakai allah, sehingga wajar kalau tiap hari berbuat baik. Sedangkan manusia di beri kedua-duanya akal sekaligus nafsu. Jika akal yang menguasai dirinya maka kebenaran  akan menang dan meningkat ke derajat malaikat. Namun kalau nafsu yang mengendalikan dirinya maka sifat-sifat binatang yang menghiasi perilakunya. Sehingga ia turun derajat ke tataran binatang. Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surh At-Tin ayat 4 dan 5 yang berbunyi:

  لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ. ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ 

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”

Hikmah kedua adalah bahwasanya hijrah merupakan perjalanan ibadah. Pada waktu hijrah, dorongan sahabat untuk ikut tidak sama. Oleh karena itu Rasulullah saw sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa amal-amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan bagi tiap orang apa yang diniatkannya.

Oleh karena itu, semangat ibadah inilah yang harus menjiwai peringatan hijrah dan langkah memasuki tahun baru hijriah.

Kemudian hikmah ketiga adalah bahwa hijrah adalah perjalanan ukhuwah.

 kita bisa menyimak bersama bagaimana penduduk Madinah menyambut orang-orang mekkah sebagai saudara. Kemudian mereka bergaul dalam suasana ukhuwah yang berlandaskan satu keyakinan bahwa semua manusia berasal dari Nabi Adam dan beliau diciptakan dari tanah. Maka bersatulah orang-orang muhajirin dan orang anshar sebagai saudara yang diikat oleh akidah. Dalam surah Al-Hujarat ayat 10 Allah Swt berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Artinya: ”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
 
Dan kaum muhajirin dan anshar ini mendapat jaminan dari Allah akan masuk surga.  Sebagaimana dalam surah At-taubah ayat 100 Allah swt berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: “Dan orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk iسlam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridla kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”

Perjalanan Nabi dari Makkah ke Madinah, sekitar 416 kilometer, ditempuh selama 16 hari dengan mengendarai onta. Nabi mengistirahatkan onta pada saat matahari hampir tepat di atas kepala dan baru melanjutkan perjalanan sore harinya. Betapa Nabi sangat menaruh belas kasih kepada sesama mahluk Allah.

Dalam perjalanan itu, Nabi diikuti oleh pembunuh bayaran dari Makkah bernama Suroqoh bin Malik yang mengendarai kuda pilihan. Dia mendapatkan iming-iming hadiah seratus unta dan wanita cantik jika bisa membunuh Nabi, minimal bisa menggagalkan perjalanan ke Madinah.

Namun ketika hendak mendekati Nabi, kuda Suroqoh mendadak terpeleset dan jatuh. Riwayat lain menyebutkan, kuda Suroqoh terperosok masuk kedalam tanah, dan itu terjadi sampai tiga kali.

Nabi yang mengetahui hal itu lalu mendekati Suroqoh dan menolongnya. Suroqoh yang penasaran dengan perilaku Nabi itu lantas menanyakan sesuatu perihal Tuhan Muhammad. Terjadilah dialog. Lalu turunlah ayat Al-Quran surat Al-Ihlas. Pada ayat pertama berbunyi, قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ “Kakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa.”

Suroqoh tertegun, tidak bisa berkata apapun. Bahkan kemudian dia menawarkan barang-barang perbekalannya untuk keperluan perjalanan Nabi, namun beliau menolak.

Inilah pelajaran pertama, bahwa seorang pemimpin tidak mudah menerima sesuatu dari orang lain karena kepemimpinannya.

Peristiwa selanjutnya adalah ketika Nabi kehabisan perbekalan. Nabi bersama Sahabat Abu Bakar dan dua orang pengawal singgah di sebuah perkemahan, hendak membeli perbekalan. Perkemahan itu dihuni oleh seorang perempuan bernama Umi Ma’bad yang ternyata dalam keadaan serba berkekurangan.

Ada seekor hewan perahan tapi dalam keadaan kurus kerontang. “Jangankan susu Tuan, air kencing hewan itu pun sudah tidak ada,” kata Umi Ma’bad kepada Nabi.

Namun kemudian Nabi mendekati hewan itu, memeras kantong susunya dan dengan izin Allah hewan itu keluar air susunya. Pertama-tama Nabi memberikan gelas berisi susu kepada Abu Bakar, kedua kepada Sahabat yang menuntun onta Nabi, ketika kepada Sahabat yang menuntun onta Abu Bakar, baru kemudian Nabi meminumnya.

Banyak peristiwa penting dalam hijrah, namun dari peristiwa yang barusan kita diajarkan bahwa semestinya pemimpin mendahulukan kepentingan rakyatnya.

Umi Ma’bad yang keheranan lalu bertanya kepada Nabi. “Kenapa Anda tidak minum terlebih dahulu?” Nabi menjawab:

خَادِمُ اْلأُمَمِ آخِرُهُمْ شُرْباً

Nabi mengajarkan bahwa, pelayan umat itu semestinya minumnya belakangan, mendahulukan kepentingan umat dari pada kepentingan pribadi.